Laporan Praktikum Pembuatan Alat Pencetak Briket dan Pembuatan BRIKOTER (Briket Kotoran Ternak)

  

PENDAHULUAN

  1. A.  Latar Belakang

Akhir-akhir ini makin tingginya harga pupuk dan bahan bakar minyak untuk kebutuhan rumah tangga, makin meresahkan masyarakat, terutama sekali masyarakat yang tinggal dipedesaan. Untuk mengatasi hal-hal yang demikian perlu dicari sumber-sumber alternatif agar produksi pertanian tetap dapat dipertahankan dan kebutuhan bahan bakar dapat dipenuhi tanpa merusak lingkungan.

Dalam situasi seperti ini pencarian, pengembangan, dan penyebaran teknologi energi non BBM yang ramah lingkungan menjadi penting, terutama ditujukan pada keluarga miskin sebagai golongan yang banyak terkena dampak kenaikan BBM. Salah satu teknologi energi yang sesuai dengan persyaratan tersebut adalah teknologi biogas (Darsin, 2006). Pemerataan pembagian LPG belum sepenuhnya merata.  Apalagi akhir-akhir ini sering terjadi ledakan tabung LPG yang membuat masyarakat semakin khawatir.Banyak masyarakat yang kembali memanfaatkan kayu sebagai sumber  bahan bakar. Jika hal ini berlangsung lama, akan menimbulkan masalah baru yaitu pembabatan hutan sehingga dikawatirkan dapat merusak lingkungan. Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal-hal tersebut perlu dicari sumber energi alternatif agar  kebutuhan bahan bakar dapat dipenuhi tanpa merusak lingkungan. Salah satu bahan bakar alternatif ini ternyata dapat dibuat dari kotoran sapi.

Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak. Limbah ternak merupakan sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produksi ternak dan lain – lain. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, dan isi rumen.

Dalam konteks itu pemantaan kotoran ternak sebagai sumber energi (bahan bakar) merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan minyak tanah dan kayu untuk keperluan rumah tangga. Dari kotoran ternak dapat dihasilkan 2 jenisbahan bakar yaitu (gas bio) dan briket. Kendala pembuatan briket yang secara tradisional adalah pada alatnya. Alat pembuat briket yang modern pasti sangat mahal. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk bisa menciptakan briket kotoran ternak beserta alat pencetaknya yang sederhana.

B.  Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah  dari praktikum Dasar Teknologi Hasil Ikutan Ternak adalah:

  1. Bagaimana keefektifan alat pencetak briket sederhana yang telah dibuat?
  2. Bagaimana kualitas briket yang dibuat?

C.  Waktu dan Tempat

Praktikum Dasar Teknologi Hasil Ikutan Ternak ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 21 dan 28 November 2011 pada pukul 09.00-11.00 WIB. Bertempat di Ruang Seminar Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret. Surakarta

PEMBUATAN ALAT BRIKOTER

A.  Tinjauan Pustaka

Alat cetak briket manual memilki fungsi mencetak briket dari bahah oganik, seperti kotoran Sapi baru , limbah pertanian yang mengandung karbon tinggi seperti: sekam, serbuk gergaji, jerami, daun-daunan, serbuk arang, serbuk batubara, arang biomasa, dan arang sekam. Sebagai bahan bakar rumah tangga di daerah pedesaan dengan hasil cetakan berbentuk silinder         (Zuhdi, 2011).

Screw conveyor yang ada di dalam alat pencetak briket modern berfungsi untuk memindahkan material/adonan. Kemudian dilakukan pemotongan sehingga menghasilkan suatu briket yang diharapkan (Gale, 1995)

Pada suatu studi dlakukan penelitian mengenai masalah perubahan struktur makromolekul briket pada tungku pengepresan alat pembuatan briket, dan menyimpulkan bahwa pengepresan baiknya dilakukan pada kemiringan 90°. Ndaji dkk. (1997)

Alat pencetak briket sangat penting dam proses pembuatan briket. Pengaruh terbesar terletak pada kepadatan dan stuktur briket. Struktur briket atau bentuk dari briket dalam proses pencetakan berpengaruhnya terhadap pembakaran. (Liu 2000)

Rancang bangun alat pencetak briket dengan skala ukuran 1:10. Bahan- bahan yang digunakan adalah kayu. Rancang bangun alat pengering briket dengan drum bekas. Tungku dirancangdengan menggunakan pengudaraannya lebih baik. Bahan tungku adalah tanah liat       (Herbawamurti, 2005).

B.  Materi dan Metode

1. Materi

1)        Alat

  1. Gergaji
  2. Pasah
  3. Meteran
  4. Mesin bor

2)        Bahan

  1. Kayu jati
  2. Baut ukuran
  3. Semen
  4. Pipa paralon

2. Metode

  1. Mempersiapakan bahan-bahan yang akan dibuat untuk membuat alat pencetak briket sederhana yaitu kayu jati, baut, semen dan pipa paralon.
  2. Mengukur kayu jati yang akan di jadikan alas, tuas penekan, tiang penumpu, dan balok pengapit
  3. Membentuk kerangka alat pencetak briket menggunakan gergaji dan mesin pasah.
  4. Melubangi kayu untuk tempat baut menggunakan mesin bor.
  5. Merakit alat pencetak briket sederhana
  6. Mengaplikasikan alat pencetak briket sederhana untuk mencetak briket
  7. Mengamati hasil cetakan

C.  Hasil dan Pembahasan

1. Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Uji Kualitas Alat Pencetak Briket
Kualitas Keterangan
Jenis kayu Kayu Jati
Ukuran
alas p= 100 cm, l= 11cm, t= 3cm
tuas penekan p= 87cm,    l= 3cm,   t=5cm
tiang penumpu p=5cm,       l=3cm,    t=25 cm
balok penjepitsemenpipa paralon p=80cm,     l=2cm,    t=5 cmt=5cm,        r=10cmt=10 cm,     r=10cm
Hasil cetakan Briket tidak padat
Kelebihan kerangka sangat kuat
Kelemahan cetakan tidak kuat
Sumber: Laporan Sementara

2. Pembahasan

Gambar 1. Alat Pencetak Briket Sederhana

Pembuaatan briket tidak lepas dari proses pencetakan, oleh karena alat pencetak briket sangat penting keberadaannya. Pada praktikum Dasar Teknologi Hasil Ikutan Ternak acara uji kualitas alat brikoter ini diawali dengan kegiatan mempersiapka semua jenis bahan-bahan an alat yang diperlukan mulai dari kayu, baut, semen, pipa paralon, gergagi, pasah, bor dan meteran. Kayu yang digunakan untuk alat pencetak briket ini adalah kayu jati berukuran masing-masing 1 meter berjumlah 4 buah. Alasan  memakai kayu ini karena keras dan awet. Setelah semua peralatan dan alat tersedia, maka dimulai kegiatan mengukur kayu yang akan dijadikan kerangka alat pencetak briket kemudian dipotong sesuai ukuran dan dipasah agar hasilnya lebih halus. Ukuran masing masing balok kayu yang dipotong masing- masing adalah untuk alasnya memiliki ukuran panjang 1m, lebarnya 11 cm dan tinggi 3 cm. Untuk tuas penekannya memiliki ukuran panjang 87 cm, lebar 3cm dan tinggi 5 cm. Untuk tiang penumpu memiliki ukuran panjang 5 cm, lebar 3 cm dan tinggi 25 cm. Sedangkan untuk balok penjepit yang berguna untuk menjepit cetakan briket memiliki ukuran panjang 80 cm, lebar 2cm dan tinggi 5 cm. cetakan semen yang digunakan sebagai pengepres briket mempunyai diameter 10 cm dengan tinggi 5 cm, sedangkan untuk cetakannya yaitu pipa paralon memiliki ukuran diameter 10 cm dengan tinggi 10 cm. Bahan yang digunakan sebagai penekan atau pres brikoter pada alat pencetak briket ini menggunakan semen sebanyak 1 Kg karena diharapkan alat pencetak briket ini bisa kuat dan yahan lama, namun untuk pencetaknya hanya menggunakan pipa paralon karena ingin menekan pengeluaran biaya.

Kayu yang sudah selesai dibentuk kemudian mulai dilubangi menggunakan bor untuk tempat baut. Baut yang digunakan berjumlah 5 buah dengan ukuran 15. Penggunaan baut berjumlah 5 ini berguna untuk memudahkan pergerakan atau fleksibilitas tuas penekan. Penyusunan kerangka untuk alat pencetak brikoter ini sangat mudah karena alat yang dibuat memang sederhana.

Setiap alat yang dibuat pasti memiliki kelebihan dan kekuranagn, dan hal ini tidak lepas dari alat pencetak brikoter yang telah dibuat. Kelebihan alat pencetak brikoter ini adalah menggunakan kayu jati yang kualitasnya bagus dan memakai 5 buah baut sehingga alat ini sangat kuat namun tetap memliki fleksibilitas tuas penekan briket yang baik.selain itu, pengepres briket menggunakan semen sehingga akan tahan lama dan kuat untuk mengepres brikoter.

Kelemahan yang ada pada alat pencetak brikoter ini terletak pada cetakan briketnya. Cetakan briket hanya menggunakan pipa paralon dan tingginya 10 cm sedangkan pengepresnya terbuat dari semen dan tingginya hanya 5 cm sehingga tidak sesuai antara pengepres dan cetakannya. Pengepres tidak bisa mengepres sampai bawah dan padat karena tingginya yang hanya 5 cm sehingga hasil cetakan briket tidak bisa padat dan mudah hancur. Jika pengepres ditekan terlalu kuat maka pipa paralonnya yang tidak kuat dan akibatnya pipa paralonnya yang pecah. Solusi untuk masalah ini adalah menambahi tinggi semen dan mengganti bahan cetakan yang lebih tebal dan kuat misalnya bambu atau cetakan yang terbuat dari besi sehingga cetakan bisa maksimal.

D.  Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Dasar Teknologi Hasil Ikutan Ternak acara pembuatan alat pencetak brikoter  ini adalah Kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan alat pencetak brikoter ini adalah persiapan bahan dan alat. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan alat pencetak briket adalah kayu jati, baut, semen, dan pipa paralon. Sedangkan alat- alat yang dipakai adalah gergaji, alat pasah, bor dan meteran. Setelah itu membentuk kerangka dengan memotong kayu. Ukuran masing masing balok kayu yang dipotong masing- masing adalah untuk alasnya memiliki ukuran p:1m, l:11 cm dan t:3 cm. Untuk tuas penekannya memiliki ukuran p:87 cm, l:3cm dan t:5 cm. Untuk tiang penumpu memiliki ukuran p: 5 cm, l:3 cm dan t:25 cm. Sedangkan untuk balok penjepit memiliki ukuran p:80 cm, l:2cm dan t:5 cm. cetakan semen yang digunakan sebagai pengepres briket mempunyai diameter 10 cm dengan t:5 cm, sedangkan untuk cetakannya yaitu pipa paralon memiliki ukuran diameter 10 cm dengan tinggi 10 cm. kegiatan yang dilakukan setelah pemtongan kayu adalah membuat cetakan semen sebagai penekan. Kayu yang telah dipotong dilubangi sebagai tempat baut setelah itu perakitan alat pencetak brikoter dan mengaplikasin alat untuk mencetak briket serta mengamati kualitas alat yang dibuat.

Kelebihan alat pencetak brikoter ini adalah menggunakan kayu jati yang kualitasnya bagus dan memakai 5 buah baut sehingga alat ini sangat kuat namun tetap memliki fleksibilitas tuas penekan briket yang baik.selain itu, pengepres briket menggunakan semen sehingga akan tahan lama dan kuat untuk mengepres brikoter.

Kelemahan yang ada pada alat pencetak brikoter ini terletak pada cetakan briketnya. Cetakan briket hanya menggunakan pipa paralon dan tingginya 10 cm sedangkan pengepresnya terbuat dari semen dan tingginya hanya 5 cm sehingga tidak sesuai antara pengepres dan cetakannya. Pengepres tidak bisa mengepres sampai bawah dan padat karena tingginya yang hanya 5 cm sehingga hasil cetakan briket tidak bisa padat dan mudah hancur

DAFTAR PUSTAKA

Gale, Thomas K., Bartholomew, Calvin H., Fletcher,Thomas H., 1995, Decreases in The Swellings and Porosity of Bituminus Coals during Devolatilization at high Heating Rate, Combustion and Flame 100 : 94-100

Herbawamurti T E. 2005. Pemanfaatan Energi Biorang. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Departemen pendidikan Nasional, Jakarta

Ndaji, Francis E., Butterfield, Ian M., Thomas K Mark., 1997, Changes in The Macromolecular Structure of Coals With Pyrolisis , Fuel 1987, vol . 76 number 2, pp. 169-177

Liquiddanu,Eko., Astuti, Rahmaniyah Dwi., Analisis Dampak Penurunan struktur porous arang briket di Jawa Tengah, Gema Ternak Vol. 2/Tahun VII Juli 2004, hal.85-91

Zuhdi. 2011. Alat Cetak Briket Manual. http://www.tokoganesha.com /product.php?id_product=82. Diakses pada hari Rabu, 30 November 2011 pukul 14.00 WIB.

PEMBUATAN BRIKOTER

A.  Tinjauan Pustaka

Limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances). Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media berbahai tujuan (Sihombing, 2002).

Untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar perlu dicari sumber energi alternatif agar  kebutuhan bahan bakar dapat dipenuhi tanpa merusak lingkungan. Salah satu bahan bakar alternatif ini ternyata dapat dibuat dari kotoran sapi.  Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak. Limbah ternak merupakan sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produksi ternak dan lain – lain. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses,urine,sisa makanan,embrio,kulit telur,lemak,darah,bulu,kuku, tulang,tanduk,isi rumen,dan lain-lain.Dalam konteks itu pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber energi (bahan bakar) merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan minyak tanah dan kayu untuk keperluan rumah tangga (Sofyadi, 2003).

Pemanfaatan kotoran ternak dapat dihasilkan 2 jenis bahan bakar yaitu biogas dan briket. Di India dengan adanya tinja sapi sebanyak 5 kg perekor dan kerbau 15 kg perekor, oleh pemerintah India disarankan untuk dihasilkannya dung cake (briket) secara massal sebagai sumber energi (Nurtjahya, 2003).

Dengan penggunaan briket kotoran ternak sebagai bahan bakar maka kita dapat menghemat penggunaan kayu sebagai hasil utama dari hutan. Selain itu penggunaan briket kotoran ternak dapat menghemat pengeluaran biaya untuk membeli minyak tanah atau gas elpiji. Dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan pembuatan briket  maka akan menningkatkan pemanfaatan limbah hasil ternak sekaligus mengurangi pencemaran udara, karena selama ini kotoran ternak banyak yang hanya dibiarkan begitu saja.Manfaat lainnya adalah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat bila pembuatan briket ini dikelola dengan baik untuk selanutnya briket dijual (Arhief, 2008).

Sampah organik ternyata tidak cuma bisa diolah menjadi kompos tetapi juga bisa dibuat sebagai bahan bio massa. Bentuk paling sederhananya adalah dibuat menjadi briket. Jika selama ini, nenek moyang kita menggunakan aneka dedaunan dan ranting sebagai bahan bakar pada tumangnya (tungku batu), prinsip kerja briket sampah pun sama, sebagai bahan bakar alternatif pada kompor alternatif. Kenapa perlu dibuat briket? Alasan utama adalah sampah yang sudah dibriket bisa disimpan,sehingga ketika musim hujan tiba sementara daun dan ranting menjadi lembab, maka ada alternatif  bahan bakar yang murah meriah. Bahan baku briket ini bisa diganti dengan serbuk kayu atau serbuk gergaji, kompos yang sudah matang, kotoran ternak /sapi (Rita, 2009)

B.  Materi dan Metode

1. Materi

1)        Alat

  1. Alat sederhana pencetak briket
  2. Stopwatch
  3. Alat dokumentasi
  4. Ember plastik
  5. Timbangan

2)        Bahan

  1. Feses Sapi 2 Kg
  2. Tepung kanji 1 Kg
  3. Serbuk gergaji 1 Kg
  4. Air
  5. Korek api

2. Metode

1)        Menimbang semua bahan yakni feses sapi, serbuk gergaji dan tepung kanji dengan perbandingan 2:1:1.

2)        Mencampurkan feses sapi, serbuk gargaji dan tepung kanji kedalam ember plastik dan menambahkan air agar memudahkan pencampuran bahan.

3)        Mngaduk bahan sampai homogen.

4)        Mencetak bahan kedalam alat pencetak briket.

5)        Briket yang telah dicetak dijemur selama seminggu agar menghilangkan kadar air yang ada di dalam briket.

6)        Membakar briket dan mengamati warna api serta lama nayala api.

C.  Hasil dan Pembahasan

1. Hasil

Tabel2. Hasil Pengamaatan Uji Kualitas Briket
Indikator Warna Api Lama Nyala Api
Briket+ Alkohol Jingga/Orange 2 menit 40 detik
Briket+ Minyak Tanah Jingga/Orange terang 4 menit 33 detik
Sumber: Laporan Sementara

2. Pembahasan

Briket adalah sumber energi alternatif pengganti Minyak Tanah dan Elpiji dari bahan-bahan bekas, sampah maupun limbah-limbah pertanian yang tidak terpakai dan diolah. Pembuatan briket berbeda dengan pembuatan biogas. Dimana pembuatan briket dilakukan dengan mengubah kotoran ternak dalam bentuk briket dengan menggunakan alat cetak. Briket yang sudah terbentuk dikeringkan dengan sinar matahari. Setelah kering, briket tersebut dimasukkan ke dalam alat pemanas. Alat pemanas diletakkan diatas kompor atau tungku. Setelah briket berubah jadi arang yang ditandai dengan habisnya asap yang keluar pada tempat pemanas. Lalu alat pemanas di buka dan briket yang masih membara disemprot dengan air. Briket yang sudah jadi arang ini dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk memasak atau kebutuhan rumah tangga (Widodo, 2005).

Pada praktikum Dasar Teknologi Hasil Ikutan Ternak acara pembuatan brikoter ini diawali dengan menimbang semua bahan yaitu feses sapi, tepung kanji dan serbuk gergaji. Perbandingan semua bahan ini adalah 2:1:1 yaitu 2 Kg untuk feses sapi, 1 Kg untuk tepung kanji dan 1 Kg untuk serbuk gergaji. Setelah semua bahan ditimbang, kemudian bahan dimasukkan ke dalam ember plastik dan diaduk hingga homogen. Sebernarnya dalam pembuatan brikoter ini tidak perlu menggunakan air karena feses sapi sudah mengandung air namun karena feses sapi yang digunakan dalam praktikum ini terlalu kering maka perlu penambahan air agar bahan mudah dicampur menjadi homogen. Langkah selanjutnya adalah mencetak briket menggunakan alat pencetak briket sederhana yang telah dibuat.

Pada praktikum ini, kami hanya mencetak briket berjumlah 10 buah yang akan digunakan sebagai bahan uji kualitas brikoter. Setelah briket selesai dicetak, briket dijemur selama satu minggu untuk mengurangi kadar air yang ada didalam briket agar briket mudah untuk dibakar.

Gambar 2. Proses penimbangan bahan-bahan untuk briket

Gambar 3. Proses pencampuran bahan-bahan briket

Gambar 4. Proses pencetakan briket

Setelah satu minggu dijemur, briket dibakar untuk menguji kualitasnya. Pengujian briket menggunakan alkohol dan minyak tanah sebagai indikator. Hasil praktikum menunjukkan bahwa briket yang dibakar menggunakan alkohol hanya menyala selama 2 menit 40 detik dengan nyala api berwarna jingga atau orange yang tidak begitu terang tanpa asap sedangkan briket yang dibakar menggunakan minyak tanah mampu menyala selama 4 menit 33 detik dengan nyala api orange terang dan berasap. Hal ini disebabkan karena sifat alkohol yang mudah menguap sedangkan minyak tanah tidak mudah menguap dan mampu diserap dengan baik oleh briket sehingga briket mampu menyala lebih lama. Pembakaran alkohol adalah pembakaran sempurna, yang disamping menghasilkan panas dan cahaya juga hanya menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan air sehingga pembakaran berlangsung dengan cepat. Gas CO2 dan air adalah partikel yang tidak berbau, itulah sebabnya pembakaran kompor alkohol tidak menimbulkan bau apalagi bau asap. Kompor alkohol tidak menghasilkan asap seperti kompor minyak tanah. Asap yang dihasilkan kompor minyak tanah berasal dari pembakaran yang tidak sempuna. Asap adalah campuran partikel berukuran renik yang berwujud padat (misalnya debu) atau berwujud cair di dalam udara, oleh karena itu pembakaran menggunakan minyak tanah berlangsung lama (Rizna, 2009).

Gambar 5. Pembakaran briket menggunakan alkohol

Gambar 6. Pembakaran briket menggunakan minyak tanah.

Pembakaran briket ini tidak berlangsung secara sempurna karena sebagian briket ada yang tidak terbakar. Hal ini dikarenakan proses penjemuran yang kurang maksimal sehingga bagian tengah briket masih sedikit basah. Pada bagian briket yang terbakar menghasilkan arang yang halus dan rapat. Hal ini bisa disebabkan karena komposisi tepung kanji yang terlalu banyak. Solusi dari permasalah diatas adalah mengubah komposisi sampai ditemukan komposisi yang pas untuk menghasilkan briket arang yang sempurna serta melakukan penjemuran yang benar-benar intensif sehingga briket mampu terbakar sempurna. Menurut Wahyu (2011), proses pembuatan briket bioarang memang agak rumit, namun sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dipraktekkan. Agar bisa terbakar dengan baik, campuran lem kanji dengan tepung arang menggunakan perbandingan (1:9) sehingga menjadi adonan yang lengket. Agar pemakaian bioarang lebih hemat adonan ini dapat ditambah ampas kelapa, serbuk gergaji, kertas bekas, bubuk ampas jarak pagar sisa proses pembuatan biodisel dan semacamnya. Selanjutnya adonan diaduk-aduk agar semua bahan tercampur rata dan cukup lengket. Adonan yang sudah lengket kemudian dicetak pada alat pencetak. Dalam pembuatan briket bioarang ini, bahan utama bisa diganti menggunakan kotoran ternak.

D.  Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Dasar Teknologi Hasil Ikutan ternak acara pembuatan brikoter ini adalah briket merupakan  sumber energi alternatif pengganti Minyak Tanah dan Elpiji dari bahan-bahan bekas, sampah maupun limbah-limbah pertanian yang tidak terpakai dan diolah. Proses pembuatan brikoter adalah menimbang semua bahan. Perbandingan semua bahan untuk briket adalah 2:1:1 yaitu 2 Kg untuk feses sapi, 1 Kg untuk tepung kanji dan 1 Kg untuk serbuk gergaji setelah itu mencampur semua bahan hingga homogen, mencetak briket pada alat pencetak briket, menjemur briket dan membakar briket.

Briket yang dibakar menggunakan alkohol hanya menyala selama 2 menit 40 detik dengan nyala api berwarna jingga atau orange yang tidak begitu terang sedangkan briket yang dibakar menggunakan minyak tanah mampu menyala selama 4 menit 33 detik. Hal ini disebabkan karena sifat alkohol yang mudah menguap.

Pembakaran briket ini tidak berlangsung secara sempurna karena sebagian briket ada yang tidak terbakar karena proses penjemuran yang kurang maksimal sehingga bagian tengah briket masih sedikit basah. Pada bagian briket yang terbakar menghasilkan arang yang halus dan rapat yang  dikarenakan komposisi tepung kanji yang terlalu banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Arhief. 2008. Pembuatan  Briket. http://arhiefstyle87.wordpress.Com /2008/04/10 /pembuatan-briket-arangdari-serbuk-gergaji/. Diakses pada hari Rabu, 30 November 2011 pukul 14.00 WIB.

Farida E. 2000. Pengaruh Penggunaan Feses Sapi dan Campuran Limbah Organik Lain Sebagai Pakan atau Media Produksi Kokon dan Biomassa Cacing Tanah Eisenia foetida savigry. Skripsi Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. IPB, Bogor.

Rita. 2009. Briket Sampah. http://bandarsampah.blogdetik.com. Diakses pada hari Rabu, 30 November 2011 pukul 14.00 WIB.

Rizna. 2009. Faktanya kompor BBA. http://sekolahmultiply.multiply.com/journal /item/11. Diakses pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 pukul 19.00 WIB.

Sofyadi, Cahyan. 2003. Konsep Pembangunan Pertanian dan Peternakan Masa Depan. Badan Litbang Departemen Pertanian. Bogor.

Sihombing D.T.H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor

Soehadji. 1992. Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Wahyu, Arozi. 2011. Pembuatan Briket Arang. www.madanitec.com. Diakses pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 pukul 19.00 WIB.

Widodo, Asari, dan Unadi, 2005. Pemanfaatan Energi Biogas Untuk Mendukung Agribisnis Di Pedesaan. Publikasi Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Serpong.

7 Komentar (+add yours?)

  1. Al Aal
    Jun 28, 2012 @ 15:53:27

    mbak gambarnya kok tidak ada..,praktikumnya keren abis.,.(like this)

    rumah pengepresnya coba diganti rumah piston motor 2 tak.selain ukuranya kecil lebar ruanganya juga sama ,tingginya juga bisa disesuaikan dengan mengunakan tinggi tuas yang bisa disetel dengan mengelas besi ulir pada kaki pistonya.,.

    jujur,kepingin nyoba aku.,

    Balas

  2. lovehanna
    Jun 29, 2012 @ 05:44:42

    iya ntar aq kasie gmbarna…

    hahaha qm ngumung apa sie?aq g paham,,,aq g paham permesinan mz.pi muga yg baca koment qm bisa paham n jadi saran yg bagus..makasie yah

    Balas

  3. budi sudia
    Des 12, 2013 @ 15:45:42

    blog yg
    bagus….

    Balas

  4. hananta
    Jul 24, 2014 @ 05:08:10

    Mbak cara membuat alatnya cetak briket…dan habis berapa rupiah mbk untuk membuat alat pencetak briket

    Balas

    • Rohana Febrin R.
      Agu 23, 2014 @ 14:19:20

      duh lupa mz kalo habis berapa soalnya itu yang beli temen-temen cowok dan minta dri bekas” tkang kayu jadi murah….iya itu masih ada kekurangan di paralon ( sebagai alat cetakan gak kuat) dan pengepresnya juga sebaiknya diganti aja ma bahan beton.

      Balas

    • Rohana Febrin R.
      Agu 23, 2014 @ 14:21:28

      buat alat cetaknya bisa dari semen yang di cetak bundar gto mz di sesuai’in ma diameter pencetak briketnya

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: