PAPERVFLU BURUNG (Avian Influenza)

Flu Burung (Avian Influenza)

BAB 1

PENDAHULUAN

 

Ketika wabah flu burung merebak, kepanikan massal terjadi. Tingkat pengetahuan massa yang rendah terhadap jenis flu ini membuat banyak orang bereaksi ekstrim. Tanpa pikir panjang, ratusan ribu unggas dimusnahkan, tanpa peduli benar atau tidaknya langkah itu.

Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas di konfirmasikan telah terjadi di Republik Korea (2003), Vietnam, Jepang, Thailand, Kamboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi (Kristina, 2003).

Di Indonesia pada bulan Januari 2004 di laporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa (terutama di Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat). Awalnya kematian tersebut disebabkan oleh karena virus new castle, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh virus flu burung (Avian influenza (AI)). Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung di 10 propinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4,77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah propinsi Jawa Barat (1.541.427 ekor). Pada bulan Juli 2005, penyakit flu burung telah merenggut tiga orang nyawa warga Tangerang Banten, Hal ini didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes Jakarta dan laboratorium rujukan WHO di Hongkong (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI).

Setelah sempat mereda, serangan flu burung kembali ditemukan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Puluhan ayam di wilayah tersebut diketahui mati mendadak dengan gejala terserang H5N1 (virus influenza A subtipe H5N1), salah satu warga Sragen yang ayam-ayamnya terserang penyakit flu burung adalah
Mulyono di Desa Sumengko, Sragen Jawa Tengah pada hari Rabu (22/12/2010).pagi

Jumlah ayam yang mati mencapai 13 ekor. Sebelumnya kejadian ini tidak pernah terjadi. Warga yang curiga langsung melaporkan ke petugas Dinas Peternakan Kabupaten Sragen (www.liputan6.com).

Puluhan ayam yang mati langsung dilakukan tes kesehatan oleh Tim Participatory Disease Surveillance and Response atau PDRS Dinas Peternakan Sragen., dan ternyata setelah diuji ayam tersebut positif terkena virus afian influensa atau flu burung.

Akibat kematian mendadak ayam-ayam tersebut, para peternak merasa resah dan dirugikan. Mereka berharap Dinas Peternakan setempat bisa berupaya mengantisipasi hal tersebut, sehingga serangan flu burung tidak kembali meluas. Ada baiknya kita mengenal beragam sub tipe dari flu burung ini. Ada banyak sub tipe dari flu ini namun hanya beberapa yang bersifat sangat patogenic terhadap manusia. Oleh karena itu, penting sekali kita khususnya masyarakat mengetahui dengan pasti apa dan bagaimana flu burung itu terjadi dan pencegahannya agar tidak menjadi momok masyarakat terutama bagi peternak unggas.

BAB II.

ISI


A.Pengenalan dan penyebab Flu Burung

Flu burung terdengar sangat mengerikan, mengingat banyak korban jiwa yang sudah jatuh karenanya. Mengetahui tentang mekanisme penularan sebuah penyakit akan membuat kita jauh lebih waspada akan penyakit tersebut. Dengan mengetahui secara detail tentang penularan penyakit flu burung, kita akan bisa mengetahui cara-cara untuk menghindarinya dengan tepat, tanpa membuat aksi yang berlebihan.

Penyakit unggas di Indonesia terdiri dari virus sebanyak 12 jenis diantaranya AI, bakteri 3 jenis, dan parasit 1 jenis. Penyakit influenza pada unggas ( Avian Influenza / AI ) yang saat ini kita kenal dengan sebutan flu burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dari Family Orthomyxomiridae. Virus Influenza ada tiga tipe, yaitu tipe A   ( pada unggas ) , tipe B dan C ( pada manusia). Virus influenza tipe A dapat berubah-ubah bentuk (Drift, Shift), dan dapat menyebabkan epidemi dan pandemi. Virus influenza tipe A terdiri dari Hemaglutinin (H) dan Neuramidase (N), kedua huruf ini digunakan sebagai identifikasi kode subtipe flu burung yang banyak jenisnya. Virus AI dibagi kedalam sub type berdasarkan permukaan Hemagglutinin (H) dan Neoraminidase (N) ada 15 sub type H dan 9 jenis N. Setiap isolate virus influenza dinyatakan dari kombinasi kedua antigen permukaan tersebut (Tabbu,2000).

Influensa tipe A terdiri dari beberapa strain, antara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain. Pada manusia hanya terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N2, H5N1, H9N2, H1N2, H7N7. Sedangkan pada binatang H1-H5 dan N1-N9. Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A (H5N1). Influensa A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung yang sangat mematikan di Hongkong, Vietnam, Thailand, Indonesia dan Jepang (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI).

Virus ini dapat menimbulkan gejala penyakit pernafasan pada unggas, mulai dari yang ringan (Low pathogenic) sampai pada yang bersifat fatal ( highly pathogenic) seperti depresi dan penurunan konsumsi pakan dan minum, penurunan produksi telur dan penurunan daya tetas telur pada ayam bibit. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220C dan lebih dari 30 hari pada 00C. Virus akan mati pada pemanasan 600C selama 30 menit atau 560 C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodine (Akoso, 1993).

  

      Gambar 1. Citra mikrograf virus flu burung dalam tahap akhir.

Gambar 2. Virus avian influenza.

B. Cara Penularan

Penularan flu burung yang dibawa oleh unggas liar kepada unggas ternak menjadi momok tersendiri oleh para peternak. Belum juga hilang bayangan ketakutan akan tertularnya diri sendiri dan keluarga oleh keganasan virus flu burung, peternak juga dibayangi kerugian akan matinya unggas-unggas peliharaan mereka. Sebelum flu burung menggemparkan dunia sejak ditemukan pada tahun 1997 di Hong Kong, telah banyak penyakit muncul pada unggas yang di Indonesia sempat dikenal dengan penyakit New Castle dan Tetelo. Namun karena tidak menular kepada manusia, kedua penyakit tersebut tidak menjadi pandemik yang ditakutkan.

Gambar 3. Bagan cara penularan virus avian influenza.

Penularan avian influenza dapat terjadi melalui kontak langsung antara ayam sakit dengan ayam yang peka. Ayam yang terinfeksi mengeluarkan virus dari saluran pernapasan, konjungtiva dan feses. Satu tetesan sekresi dari burung yang terinfeksi mengandung virus yang dapat membunuh 1 juta burung. Penularan dapat juga terjadi secara tidak langsung, misalnya melalui udara yang tercemar oleh material/debu yang mengandung virus influenza (aerosol); makanan/minuma, alat/perlengkapan peternakan, kandang, kurungan ayam, pakaian, kendaraan, peti telur (egg trays), burung; mamalia dan insekta yang mengandung atau tercemar virus influenza. Sehubungan dengan cara penularan tersebut, maka virus influenza dapat disebarkan dengan mudah ke berbagai daerah oleh orang atau alat/perlengkapan dan kendaraan yang dipakai untuk memasarkan produk ternak unggas (Tabbu, 2000).

Sumber penularan virus influenza pada unggas adalah spesies unggas peliharaan lain, burung peliharaan, burung liar, dan hewan lain. Para ahli melaporkan adanya penularan virus tersebut dari itik ke ayam atau kalkun ke ayam, ayam mutiara dan burung merak. Sumber infeksi avian invluenza dapat berasal dari burung liar, terutama unggas air yang berpindah-pindah. Penularan virus avian influenza dari babi ke kalkun dapat terjadi melalui pekerja atau alat yang tercemar virus tersebut setelah terjadi letupan virus tersebut pada babi.

Penularan virus avian invluenza secara vertikal (melalui telur) masih dipertanyakan, walaupun virus tersebut dapat diisolasi dari kerabang dan bagian dalam telur ayam yang terinfeksi oleh virus avian influenza(Tabbu, 2000).

C. Gejala

Gejala penyakit flu burung sangat bervariasi dan tergantung pada spesies unggas yang terinfksi, galur virus dan faktor lingkungan. Gejala yang terlihat dapat berbentuk gangguan pada saluran pernapasan, pencernaan, reproduksi atau system saraf. Virus influenza A dari berbagai subtipe dapat menimbulkan penyakit dengan derajat keparahan yang berbeda, mulai dari penyakit yang menyebabkan mortalitas yang tinggi dengan kematian yang mendadak tanpa didahului oleh gejala klinis tertentu atau hanya menunjukkan gejala yang ringan sampai pada bentuk penyakit yang sangat ringan atau tidak tampak secara klinis.

Masa inkubasi virus ini terhadap unggas berkisar antara beberapa jam sampai 3 hari kadang 7 hari tergantung ada dosis virus, rute kontak dan spesies unggas yang diserang. Sedangkan pada manusia 1-3 hari , Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala. Pada anak sampai 21 hari .Avian influenza pada unggas dapat ditemukan dalam dua bentuk, yaiu bentuk ringan dan bentuk akut (highly pathogenic avian influenza, HPAI).

Pada avian influenza bentuk ringan, akan terlihat adanya penurunan atau produksi telur yang terhenti, gangguan pernapasan, anoreksia, depresi, sinusitis dan mortalitas yang rendah tetapi cenderung meningkat.

Pada avian influenza bentuk akut (HPAI) ditandai oleh adanya proses penyakit yang cepat disertai mortalitas yang tinggi, gangguan produksi telur (berhenti atau menurun secara drastis), gangguan pernapasan (batuk, bersin, ngorok), lakrimasi (leleran dari mata) yang berlebihan, sinusitis, edema di daerah kepala dan muka, erdarahan jaringan subkutan yang diikuti oleh sianosis paad kulit, terutama di daerah kaki, kepala dan pial, diare dan gangguan saraf. Pada kasus tertentu, penyakit ini dapat berlangsung sangat cepat dan ayam dapat mati mendadak tanpa didahului oleh gejala tertentu. Pada ayam bibit, produksi telur biasanya menurun drastis yang disertai oleh penurunan dayaetas telur. Disamping itu, pigmentasi pada telur juga menghilang sekitar 20% dari telur ayam kelompok tertentu.

Secara umum agar masyarakat mudah mengidentifikasikan ternak unggasnya jika terkena flu burung dapat diamati dengan melihat gejala antara lain: jengger berwarna biru, borok di kaki, dan kematian mendadak. Sedangkan pada manusia yang terkena flu burung dapat diketahui dengan gejala demam (suhu badan diatas 380C),batuk dan nyeri tenggorokan, radang saluran pernapasan atas, pneumonia, infeksi mata dan nyeri otot.

D. Perubahan Patologik

1. Perubahan Makroskopik

Perubahan makroskopik yang ditemukan pada unggas sangat bervariasi menurut lokasi lesi dan derajat keparahannya dan tergantung pada spesies unggas dan patogenisitas virus influenza yang terlibat.

a. Bentuk ringan

pada sinus mungkin ditemukan adanya salah satu atau campuran eksudat kataralis, fibrinus, serofibrinus, mikopurulen atau kaseus. Trakea mungkin akan menunjukkan adanya edema yang disertai oleh pembentukan eksudat yang bervariasi dari serus sampai kaseus. Kantong udara mungkin akan menebal dan mengandung eksudat fibrinus atau kaseus. Pada peritoneum mungkin akan ditemukan adanya peritonitis fibrinus dan egg peritonitis. Pada sekum dan/atau usus mungkin ditemukan adanya enteritis kataralis sampai fibrinus. Pada petelur, mungkin ditemukan adanya eksudat di dalam oviduk.

b. Bentuk akut (HPAI)

jika unggas mati dalam waktu yang singkat, maka biasanya tidak ditemukan adanya perubahan makroskopik tertentu oleh karena lesi pada jaringan belum sempat berkembang. Pada sejumlah kasus HPAI dapat ditemukan adanya kongesti, hemoragik, transudasi dan nekrosis. Contoh: lesi yang ditimbulkan oleh virus influenza A subtipe H7N7, H5N1, H5N9 dan H5N2. Berbagai subtipe virus  influenza tersebut dapat menimbulkan lesi pada stadium awal yang meliputi edema pada kepala yang disertai oleh pembengkakan sinus; sianosis, kongesti dan hemoragik pada pial dan balung. Kongesti dan hemoragik mungkin ditemukan juga pada kaki. Jika penyakit ini melanjut, maka kerapkali akan ditemukan adanya foki nekrotik pada hati, limpa, ginjal dan paru.

Perubahan makroskapik pada ayam, yang ditemukan pada letupan avian influenza subtipe H2N2 tersifat oleh adanya pembengkakan pada pial dan balung, yang disertai oleh adanya edemaperiorbitalis. Lesi pada balung dapat berbentuk vesikola sampai kebengkakan yang ekstensif dan sianosis; ekimosis dan nekrosis. Kadang-kadang ditemukan adanya kebengkakan pada kaki yang disertai oleh bintik perdarahan ekimosis. Lesi pada organ viseral meliputi petekie pada berbagai permukaan serosa dan mukosa terutama mukosa dari proventrikulus dekat perbatasan dengan ventrikulus. Pankreas kerap kali menunjukkan adanya daerah yang berwarna merah tua dan kuning muda.

Perubahan makroskopik pada unggas yang terserang avian influenza kerapkali diikuti oleh lesi yang ditimbulkan oleh bakteri sehingga perubahan yang ditemukan mungkin merupakan akibat dari infeksi virus avian influenza dan bakteri.

2. Perubahan Mikroskopik

Lesi yang ditimbulkan oleh flu burung ditandai oleh adanya edema, hyperemia, hemoragik, dan perivascular cuffing sel limfoid, terutama pada miokardium, limpa, paru, otak, balung dan dengan frukuensi yang lebih rendah pada hati dan ginjal. Lesi pada otak meliputi foki nekrosis, perivasculer cuffing sel limfoid gliosis, proliferasi pembuluh darah dan degenerasi nekrosis neuron. Beberapa virus flu burung tipe A yang bersifat sangat patogenik kerapkali menimbulkan nekrosis miokardium dan miokarditis.

Perubahan histopatologik pada ayam atau kalkun yang terinfeksi secara alami oleh virus avian influenza  subtipe H5N2 (tergolong virus HPAI) meliputi ensefalitis nonsupuratifa difus yang bersifat ringan sampai moderat; pankreatitis nekrotikan; miositis nekrotikan subakut yang bersifat sangat ringan sampai berat pada berbagai otot skelet, terutama otot okular eksternal dan otot paha. Perubahan histopaologik biasanya lebih parah pada ayam pedaging daripada ayam petelur (Tabbu, 2000).

E. Pengendalian dan Pencegahan virus

Ada serangkaian tindakan yang merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan jika ayam terjangkit flu burung terutama setelah melapor pada Dinas Kesehatan. Tindakan tersebut  adalah :

  1. Meningkatkan keamanan biosekuriti (memakai sarung tangan, masker dan penutup kepala).
    1. Melakukan vaksinasi terhadap unggas.
    2. Melakukan depopulasi atau pemusnahan terbatas di daerah yang tertular.
  2. Mengendalikan lalu lintas keluar masuk unggas dan menghalangi masuknya unggas liar.
  3.  Melakukan pengamatan dan penelurusan kembali bagaimana unggas bisa terkena flu burung.
  4.  Mengisi kandang kembali.
  5. Memusnahkan keseluruhan unggas di daerah yang baru tertular. Metode pembakaran yang digunakan harus tepat guna mencegah asap dan material lain tersebar ke tempat lain. Material-material tersebut masih memiliki potensi menularkan jika sampai terhirup hewan ataupun manusia.
  6. Meningkatkan kesadaran masyarakat atas bahayanya virus flu burung.
  7. Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup.
  8. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :

– Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya)

– Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 800C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ± 640C selama 4,5 menit.

  1.  Melakukan monitor dan evaluasi

 

Untuk melindungi ternak unggas supaya tidak terjangkit wabah flu burung antara lain menjaga ternak supaya dalam kondisi baik dengan menyediakan akses air bersih dan makanan yang memadai, kandang yang memadai, dan memberi ternak produk bebas cacing yang sudah diberi vaksin, menjaga ternak supaya tetap berada dalam lingkungan yang terlindung dan memeriksa barang-barang yang masuk ke dalam peternakan. Dengan demikian, unggas akan sedikit sekali terkena ancaman flu burung dan kita tidak perlu kuatir akan tertular.

Selain tindakan di atas, pemerintah juga ikut serta dalam pengendalian flu burung di Indonesia. Pemerintah sendiri didukung oleh bantuan USAID yang memegang peranan penting secara keseluruhan. Bantuan dana sebesar 42,88 juta US Dollar telah dicairkan untuk mencegah dan mengendalikan flu burung di Indonesia sejak tahun 2005. Adapun program yang dijalankan adalah :

  1. Persiapan dan Pengendalian Flu Burung.
  2. Membentuk program pengendalian berbasis masyarakat yang diberi nama Community-Based Avian Influenza Control (CBAIC)  yang memprakarsai dan mengkoordinasi berbagai kegiatan di sektor dan tingkatan pemerintahan. Contoh kegiatannya adalah melatih para coordinator Flu Burung di desa-desa untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali gejala awal flu burung.
  3. Mengawasi dan menangani Flu Burung.
  4. Membangun dan melaksanakan kegiatan pengawasan unggas secara aktif, dengan melatih petugas kesehatan hewan dan melengkapinya dengan keterampilan pengawasan dan pengendalian penyakit, serta melengkapinya dengan peralatan yang sesuai untuk dapat melakukan aktivitas lapangan. Selain itu juga bekerjasama dengan LSM lokal untuk menyebarkan informasi pencengahan, pengawasan dan pelaporan penanggulangan Flu Burung ke desa-desa, dan melatih sukarelawan desa (www.litbang.depkes.go.id/mask.fluburung1.html).

F. Pengobatan

Avian influenza pada unggas tidak dapat di obati. Pemberian antibiotik atau antibakteri hanya ditujukan untuk mengobati infeksi sekunder oleh bakteri atau mycoplasma. Disamping itu, perlu juga dilakukan pengobatan suportif dengan multivitamin untuk membantu proses rehabilitasi jaringan yang rusak.

Sedangkan pengobatan bagi penderita flu burung adalah: oksigenasi bila terdapat sesak napas, hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus), pemberian obat anti virus oseltamivir (tamiflu) 75 mg dosis tunggal selama 7 hari, amantadine diberikan pada awal infeksi, sedapat mungkin dalam waktu 48 jam pertama selama 3-5 hari dengan dosis 5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 2 dosis. Bila berat badan lebih dari 45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari.

Amantadine dan rimantadine yaitu ion channel (M2) blocker, yang menghalagi aktivitas ion channel dari virus flu jenis A dan bukan jenis B sehingga aliran ion hydrogen dapat diblok dan virus tidak dapat berkembang biak. Sayang sekali bahwa jenis obat ini dapat memicu tingkat resistensi virus terhadap zat obat, sehingga di hari ke 5 hingga ke 7 setelah konsumsi obat, 16-35% dari virus akan resisten karena adanya mutasi pada protein M2 pada virus. Oleh karena itu, obat jenis ini tidak dijual bebas di sembarang apotik, meskipun dengan pemberian resep dokter, karena dikhawatirkan kesalahan pemberian obat dapat menimbulkan munculnya jenis virus baru yang lebih ganas dan kebal.

F. Dampak  Flu Burung

Munculnya penyakit Flu burung menimbulkan dampak yang luar biasa terutama di bidang perekonomian di suatu negara. Kerugian di industri peternakan menyebabkan hilangnya keuntungan milyaran rupiah yang dialami baik peternak ataupun negara, terutama bagi negara berkembang yang bergantung pada industri tersebut sebagai salah satu sumber pendapatannya.

Bayangkan saja dengan merebaknya virus flu burung, banyak masyarakat yang membatalkan mengkonsumsi daging ayam dan harga daging unggas menjadi turun. Dan jika penyakit semakin menyebar, maka pengendaliannya di suatu negara makin sulit untuk dilakukan, dan pemerintah sudah pasti harus mengambil langkah yang agresif untuk mengendalikan penyakit dan menghindarkan untuk timbulnya banyak korban. Selain itu penyakit ini telah menghabiskan dana milyaran dollar untuk penelitian dan persiapan untuk penanganan pandemic, lebih dari 10 milyar dollar dikeluarkan untuk memusahkan unggas untuk menghindarkan mewabahnya H5N1.

Dibandingkan dengan AIDS yang membunuh 50 juta jiwa dalam jangka waktu 25 tahun, pandemic flu dapat membunuh 50 juta jiwa dalam waktu 25 minggu saja. Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam membantu  pemerintah dalam penanganan kasus flu buung sangat diharapkan agar resiko tertularnya  virus flu burung terhadap ternak khusunya ternak ungas dapat diminimalisir di Indonesia (http://www.info.gov.hk/info/flu/eng/global.htm)

BAB III.

KESIMPULAN

 

Dari hasil pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Penyakit flu burung (Bird Flu, Avian influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas.
  2.  Strain virus flu burung yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung yang mematikan adalah dari subtipe A (H5N1).
  3.  Influensa A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung yang sangat mematikan di Hongkong, Vietnam, Thailand, Indonesia dan Jepang.
  4. Virus ini dapat menimbulkan gejala penyakit pernafasan pada unggas, mulai dari yang ringan (Low pathogenic) sampai pada yang bersifat fatal ( highly pathogenic).
  5. Penularan avian influenza dapat terjadi melalui kontak langsung dan secara tidak langsung.
  6. Gejala jika ayam terkena flu burung antara lain: jengger berwarna biru, borok di kaki, dan kematian mendadak. Sedangkan pada manusia yang terkena flu burung dapat diketahui dengan gejala demam (suhu badan diatas 380C),batuk dan nyeri tenggorokan, radang saluran pernapasan atas, pneumonia, infeksi mata dan nyeri otot.
  7. Perubahan patologik pada unggas yang terserang flu burung ada dalam dua bentuk yaitu perubahan makroskopik dan perubahan mikroskopik.
  8. Perubahan makroskopik yang ditemukan pada unggas sangat bervariasi menurut lokasi lesi dan derajat keparahannya dan tergantung pada spesies unggas dan patogenisitas virus influenza yang terlibat.
  9. Perubahan mikroskopik pada unggas. Lesi yang ditimbulkan oleh flu burung ditandai oleh adanya edema, hyperemia, hemoragik, dan perivascular cuffing sel limfoid, terutama pada miokardium, limpa, paru, otak, balung dan dengan frukuensi yang lebih rendah pada hati dan ginjal. Lesi pada otak meliputi foki nekrosis, perivasculer cuffing sel limfoid gliosis, proliferasi pembuluh darah dan degenerasi nekrosis neuron.
  10. Pencegahan tepat guna yang diperlukan untuk mencegah tertularnya penyakit flu burung adalah segera memusnahkan atau membakar bangkai ayam yang terinfeksi flu burung dan melakukan vaksinasi terhadap ayam yang sehat.
  11. Avian influenza pada unggas tidak dapat di obati. Sedangkan pengobatan bagi penderita flu burung adalah: oksigenasi bila terdapat sesak napas, hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus), pemberian obat anti virus oseltamivir (tamiflu) sesuai resep dokter.
  12. Amantadine dan rimantadine yaitu ion channel (M2) blocker, yang menghalagi aktivitas ion channel dari virus flu jenis A dan bukan jenis B sehingga aliran ion hydrogen dapat diblok dan virus tidak dapat berkembang biak namun jika terjadi kesalahan pemberian obat dapat menimbulkan munculnya jenis virus baru yang lebih ganas dan kebal
  13. Munculnya penyakit Flu burung menimbulkan dampak yang luar biasa terutama di bidang perekonomian di suatu negara.

DAFTAR PUSTAKA

 

Akoso, B.T., 1993. Manual Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

Anonymous, 2005. Flu Burung. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI.

Kristina, dkk., 2003. Flu Burung. Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso. Jakarta.

Tabbu, R.C., 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya, volume 1. Kanisius. Yogyakarta.

www.liputan6.com

http://www.info.gov.hk/info/flu/eng/global.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Flu_burung

http://www.litbang.depkes.go.id/mask…fluburung1.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: