Data Realisasi IB Kabupaten Ngawi

I.                   PENDAHULUAN

Kebutuhan akan daging di Indonesia semakin meningkat seiring  meningkatnya kesadaran mereka akan kebutuhan gizi. Oleh karena itu Pemerintah mencanangkan program swasembada daging Indonesia tahun 2014. Untuk mendukung terlaksananya program tersebut, salah satu hal yang perlu diperhatikan dan sangat penting adalah  usaha pembibitan karena berpengaruh terhadap reproduksi. Reproduksi merupakan salah satu fungsi tubuh dari hewan dan sangat penting untuk meneruskan keturunan. Hewan akan bereproduksi setelah mengalami dewasa kelamin atau pubertas. Pada waktu yang lalu proses reproduksi dilakukan dengan cara kawin alami, yaitu dengan menggunakan pejantan yang mengawini betina secara langsung tanpa bantuan atau campur tangan manusia. Tetapi seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, proses perkawinan pada saat ini dilakukan dengan campur tangan manusia yaitu dengan menggunakan teknologi IB (Inseminasi Buatan). Tujuan dari pembibitan yaitu untuk menghasilkan ternak yang mempunyai mutu genetik dan ekonomis, serta mempunyai sifat herediter produktif.

IB adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoon. Potensi terpendam yang dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik, apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak betina (Hafez, 1993).

Dalam pelaksanaan IB (Inseminasi Buatan) mempunyai keuntungan diantaranya, menghemat penggunaan pejantan sebagai pemacek, sehingga dapat mengurangi biaya pemeliharaan sapi  pejantan, dengan IB juga dapat dipilih jenis bibit yang digunakan, sehingga menghasilkan keturunan yang unggul. Selain keuntungan yang disebutkan diatas, juga mempunyai kerugian yaitu persentase terjadinya kegagalan IB lebih besar dibandingkan dengan kawin alami. Dalam pelaksanaan IB dimungkinkan terjadinya kegagalan, sehingga dimungkinkan inseminasi ulang. Hal ini tentu saja juga akan menambah biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan inseminasi buatan.

Untuk mengetahui perkembangan IB yang ada dan untuk memantau perkembangan sejauh mana program Indonesia menuju swasembada daging tahun 2014, maka setiap wilayah di Indonesia termasuk Kabupaten Ngawi mendata populasi ternak yang melakukan kawin secara IB dengan mencatat angka kelahiran ternak tiap tahunnya. Dengan demikian pemerintah pusat mampu mengetahui produktifitas ternak di Indonesia.

II.                TINJAUAN PUSTAKA

Kelompok ternak yang menderita gangguan keseimbangan hormon, kususnya hormone reproduksi, manifestasi gangguan reproduksi pada kelompok ini yang sering dijumpaidi lapangan adalah korpusluteum persisten, kista ovarium, hipofungsi ovarium. Korpus luteum persisten sering berkaitan dengan adanya kelainan patologi uterus atau produksi susu yang tinggi pada awal laktasi (Suhatojo, 1995).

Pubertas atau dewasa kelamin adalah periode dalam kehidupan makhluk jantan atau betina dimana proses-proses reproduksi mulai terjadi, yang ditandai oleh kemampuan untuk pertamakalinya memproduksi benih. Dewasa kelamin akan dicapai sebelum dewasa tubuh (Soebadi, 1980).

Manifestasi psikologis birahi ditimbulkan oleh hormon seks betina, yaitu estrogen yang dihasilkan oleh folikel-folikel ovarium. Pada sapi betina seringkali terjadi birahi tenang semua fenomena histologis dan fisiologis yang normal dapat teramati, termasuk ovulasi tetapi respon untuk perkawinan tidak tampak, untuk beberapa individu, kebutuhan estrogen mungkin lebih besar dibanding yang lainnya dan birahi tenang mungkin disebabkan oleh kegagalan dalam mensekresi estrogen dalam jumlah yang cukup besar untuk menimbulkan respon perkawinan. Tanda-tanda sapi birahi antara lain vulva nampak lebih merah dari biasanya, bibir vulva nampak agak bengkak dan hangat, sapi nampak gelisah, ekornya seringkali diangkat bila sapi ada dipadang rumput sapi yang sedang birahi tidak suka merumput, kunci untuk menentukan yang mana diantara sapi-sapi yang saling menaiki tersebut birahi adalah sapi betina yang tetap tinggal diam saja apabila dinaiki dan apabila didalam kandang nafsu makannya jelas berkurang, pada sapi dewasa laktasi tidak jarang produksi susunya turun (Soetarno, 2003).

Manfaat penerapan bioteknologi IB pada ternak  adalah sebagai berikut :

  1. Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
  2. Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
  3. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
  4. Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
  5. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati (Hafez, 1993).

Suhu lingkungan yang terlampau rendah atau terlampau tinggi dapat mempengaruhi reproduksi hewan jantan. Fungsi thermoregulatoris scrotum dapat terganggu dengan akibat-akibat buruk terhadap spermatogenesis. Peninggian suhu testes karena cryptoechidismus dan testes yang tersembunyi, hernia inguinalis, penyakit kulit, dan peninggian suhu udara karena kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan kegagalan pembentukan dan penurunan produksi spermatozoa (Toelihere, 1981).

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Pendataan di Kabupaten Ngawi

Tabel 1. Daftar Realisasi IB dan Kelahiran per Inseminator Thn. 2007 Kabupaten Ngawi

No

Nama

SPIB

Total realisasi s/d Desember 2007

INSEMINASI

KELAHIRAN

Aksep

IB Ulang

Dosis

Gagal

1

Sadjad, S.pt

Karang jati

304

34

338 47 49 96 208

2

Budiono

Karang jati II

370

49

419 70 68 138 232

3

Endro T

Kasreman

553

92

646 167 116 96 457

4

Samsuhadi

Padas

650

96

746 174 120 294 356

5

Sumono

Bringin

2868

488

3356 366 411 777 2091

6

Hutoyo

Bringin II

814

118

932 106 127 233 581

7

Jaman

Pangkur

1759

197

1956 422 367 789 970

8

Agus Heru Y

Ngawi

1830

186

2012 192 176 368 1462

9

Atok Sunarto

Geneng

1394

395

1789 479 424 903 491

10

Agung Basuki

Gerih

161

15

176 0 0 176

11

Pardji

Gerih

2260

197

1435 183 166 349 1911

12

Supriyadi, S.pt

Paron

601

176

619 67 70 137 464

13

Joko S

Pitu II

529

164

535 91 84 175 354

14

Tulus Heru W

Pitu II

892

133

908 150 124 274 618

15

Edy Heru G

Kendal I

1068

229

1093 200 238 438 630

16

Pardi

Kendal II

1046

217

1078 211 229 440 606

17

Kirno Jogorogo I

18

Marno Jogorogo II

640

133

773 73 81 154 486

19

Suwadi

Sine

3124

93

3217 392 665 1057 2067

20

Suwarno

Widodaren

1500

733

2314 390 332 722 778

21

Muh khusaini

Mantingan

781

136

917 233 182 415 366

22

Hermanto, S.pt

Kedunggalar

710

128

838 128 162 290 420

23

Rimin

Karang anyar

535

150

685 92 101 193 342

jumlah

23715

4009

26025 4116 4175 8104 15626

Sumber : Data dinas peternakan kabupaten Ngawi

Tabel 2. Daftar Realisasi IB dan Kelahiran per Inseminator Thn. 2008 Kabupaten Ngawi

No

Nama

SPIB

Total realisasi s/d Desember 2008

INSEMINASI

KELAHIRAN

Aksep

IB Ulang

Dosis

Gagal

1

Sadjad, S.pt

Karang jati

592

103

695

94

102

196

396

2

Budiono

Karang jati II

638

41

679

94

109

203

435

3

Endro T

Kasreman

816

102

918

174

131

305

511

4

Samsuhadi

Padas

915

126

1041

185

146

331

584

5

Sumono

Bringin

3207

433

3640

421

475

896

2311

6

Hutoyo

Bringin II

1304

164

1468

167

182

439

865

7

Jaman

Pangkur

2570

287

2857

228

511

739

1831

8

Agus Heru Y

Ngawi

2297

293

2590

254

226

480

1817

9

Atok Sunarto

Geneng

1487

425

1912

490

441

931

556

10

Pardji

Gerih

364

10

374

364

11

Drh. Danny

Kwadungan

902

152

1054

93

119

212

690

12

Supriyadi, S.pt

Paron

598

234

832

97

129

226

372

13

Joko S

Pitu II

423

187

610

115

109

224

199

14

Tulus Heru W

Pitu II

1373

69

1442

198

170

368

1005

15

Edy Heru G

Kendal I

1320

311

1631

212

205

417

903

16

Pardi

Kendal II

658

173

831

118

119

237

421

17

Dino S3 Jogorogo I

13

13

13

18

Marno Jogorogo II

718

249

967

90

158

248

470

19

Edwin

Ngrambe

29

4

82

29

20

Suwadi

Sine

3961

75

4036

419

843

1262

2694

21

Suwarno

Widodaren

2117

1149

3266

468

459

927

1190

22

Muh khusaini

Mantingan

1013

134

1147

296

203

499

514

23

Hermanto, S.pt

Kedunggalar

949

235

1184

189

250

439

510

24

Rimin

Karang anyar

949

246

1195

185

179

364

585

jumlah

29.212

5.220

34.432

4.587

5.266

9.943

19269

Sumber : Data dinas peternakan kabupaten Ngawi

Tabel 3. Daftar Realisasi IB dan Kelahiran per Inseminator Thn. 2009 Kabupaten Ngawi

No

Nama

SPIB

Total realisasi s/d Desember 2009

INSEMINASI

KELAHIRAN

Aksep

IB Ulang

Dosis

Gagal

1

Sadjad, S.pt

Karang jati

588 118 706 119 112

231

357

2

Budiono

Karang jati II

570 56 926 156 182

338

232

3

Endro T

Kasreman

1008 152 1160 183 129

312

696

4

Samsuhadi

Padas

1212 138 1350 200 133

333

879

5

Sumarno, S.pt

Bringin

3467 807 4274 571 566

1137

2330

6

Hutoyo

Bringin II

1892 256 2148 275 309

584

1308

7

Jaman

Pangkur

3131 412 3543 586 676

1262

1869

8

Agus Heru Y

Ngawi

3120 276 3396 340 280

620

2500

9

Atok Sunarto

Geneng

1759 467 2226 556 523

1079

680

10

Pardji

Gerih

619 183 802 25 25

50

569

11

Drh. Danny

Kwadungan

1353 101 1454 13 16

29

1324

12

Supriyadi, S.pt

Paron

555 108 663 87 100

187

368

13

Joko S

Pitu II

357 163 520 69 67

136

221

14

Tulus Heru W

Pitu II

1937 147 2084 293 283

576

1361

15

Edy Heru G

Kendal I

1535 436 1971 173 189

363

1172

16

Dino S, S.pt

Jogorogo I

172 15 187

172

17

Marno Jogorogo II 1770 293 2063 159 170

329

1441

18

Edwin

Ngrambe

51 6 57

51

19

Suwadi

Sine

4581 170 4751 465 924

1389

3192

20

Suwarno

Widodaren

1831 852 2683 299 254

553

1278

21

Muh khusaini

Mantingan

1560 151 1711 312 233

545

1015

22

Hermanto

Kedunggalar

1103 202 1305 171 250

421

682

23

Rimin

Karang anyar

1538 502 2040 219 242

461

1077

24

Drh. Tri Indah

Mantingan II

33 33

33

jumlah

    36.042 6011 42.05 5.271 5.663 10.934 25108

Sumber : Data dinas peternakan kabupaten Ngawi

Tabel 4. Daftar Realisasi IB dan Kelahiran per Inseminator Thn 2010 Kabupaten Ngawi

No

Nama

SPIB

Total realisasi s/d Desember 2010

INSEMINASI

KELAHIRAN

Aksep    IB Ulang Dosis

Gagal

1

Sadjad, S.pt

Karang jati

751 127 878 256 260

516

235

2

Budiono

Karang jati II

931 90 1021 193 295

488

443

3

Endro T

Kasreman

784 111 895 290 200

490

294

4

Samsuhadi

Padas

1093 152 1245 306 225

531

562

5

Sumarno

Bringin

3205 625 3830 610 716 1326

1879

6

Hutoyo

Bringin II

1876 201 2077 300 298

598

1278

7

Jaman

Pangkur

2327 146 2474 756 991

1747

580

8

Agus Heru Y

Ngawi

2860 262 3122 558 547

1105

1755

9

Atok Sunarto

Geneng

1688 463 2152 701 634

1335

353

10

Pardji

Gerih

550 267 817 117 159

276

274

11

Drh. Danny

Kwadungan

2031 128 2159 112 130

242

1789

12

Supriyadi, S.pt

Paron

559 191 744 90 97

187

372

13

Tulus Heru W

Pitu II

1372 179 1551 345 343

688

684

14

Edy Heru G

Kendal I

1333 448 1781 204 195

399

934

15

Dino S3 Jogorogo I 640 144 784 5 20

25

615

16

Marno Jogorogo II 1664 161 1825 166 192 358

1306

17

Edwin

Ngrambe

32 14 44

32

18

Suwadi

Sine

4428 172 4600 483 930

1410

3018

19

Suwarno

Widodaren

1697 572 2269 404 396

800

897

20

Muh khusaini

Mantingan

1187 167 1354 404 294

698

489

21

Hermanto, S.pt

Kedunggalar

1162 252 1414 443 346

789

373

22

23

24

25

26

27

28

29

RiminDrh. Tri IndahEko Wahyu W

Sugeng R

Wendhi W.

Pariman

Abram A.

Afria Rin B

Karang anyar

Mantingan II

Geneng

Kendal

Jogorogo

Mantingan II

Widodaren II

Kedungglar II

17492681

430

262

33

411

11

564 2293 318 289

607

1142

16 33

26

15 96

81

1274-

10

1

557

430

266

262

33

33

421

411

133

118

jumlah

35280 5623 40868 7061 7557

14615

20665

Sumber : Data dinas peternakan kabupaten Ngawi

Tabel 5. Daftar Realisasi IB dan Kelahiran per Inseminator Thn. 2011 Kabupaten Ngawi

No

Nama

SPIB

Total realisasi s/d Mei 2011

INSEMINASI

KELAHIRAN

Aksep

IB Ulang

Dosis

Gagal

1

Sadjad, S.pt

Karang jati

332 75

407

119 122 241

91

2

Budiono

Karang jati II

397 116

513

118 119 237

160

3

Endro T

Kasreman

298 42

340

95 73 168

130

4

Samsuhadi

Padas

407 50

457

122 97 219

188

5

Sumarno, S.pt

Bringin

1056 166

1222

268 300 568

488

6

Hutoyo

Bringin II

970 47

717

119 117 236

734

7

Jaman

Pangkur

799 52

851

254 285 539

260

8

Agus Heru Y

Ngawi

953 110

1063

195 178 373

580

9

Atok Sunarto

Geneng

594 134

728

294 285 572

22

10

Pardji

Gerih

231 51

282

69 89 158

73

11

Drh. Tjahjo

Kwadungan

12

Supriyadi, S.pt

Paron

246 69

315

36 51 87

159

13

Tulus Heru W

Pitu II

471 39

510

144 143 287

184

14

Edy Heru G

Kendal I

581 169

750

105 105 210

371

15

Dino S, S.pt

Jogorogo I

310 55

365

25 70 95

215

16

Marno Jogorogo II 622 64

686

50 43 93

529

17

Edwin

Ngrambe

19 5

24

19

18

Suwadi

Sine

1774 44

1818

216 454 670

1104

19

Suwarno

Widodaren

603 153

756

191 200 391

212

20

Muh khusaini

Mantingan

387 42

429

163 129 292

95

21

Hermanto

Kedunggalar

330 82

412

83 124 207

123

22

Rimin

Karang anyar

622 156

778

115 96 21

601

23

Eko Wahyu

Geneng

78 11

89

78

24

Sugeng R

Kendal

368 126

494

9 13 22

346

25

Wendhy W

Jogorogo

102 12

114

102

26

Pariman

Mantingan II

15 2

17

15

27

Abram A

Widodaren II

841 107

948

28

Afria Rian B

Kedunggalar

123 21

144

123

jumlah

    13529 2000 15229 2790 3093 5686 7002

Sumber : Data dinas peternakan kabupaten Ngawi

  • Persentase kegagalan IB tahun 2007: 65,9%
  • Persentase kegagalan IB tahun 2008:  66%
  • Persentase kegagalan IB tahun 2009 : 69,6%
  • Persentase kegagalan IB tahun 2010 : 58,6%
  • Persentase kegagalan IB tahun 2011: 51,7%

B.  Pembahasan

Program IB tidak hanya mencakup pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi betina, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan/ternak betina, bimbingan dan penyuluhan pada peternak. Dengan demikian pengertian IB menjadi lebih luas yang mencakup aspek reproduksi dan pemuliaan, sehingga istilahnya menjadi artificial breeding (perkawinan buatan). Tujuan dari IB itu sendiri adalah sebagai satu alat yang ampuh yang diciptakan manusia untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak secara kuantitatif dan kualitatif (Toelihere, 1985).

Penerapan bioteknologi IB pada ternak ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu semen beku, ternak betina sebagai akseptor IB, keterampilan tenaga pelaksana (inseminator) dan pengetahuan zooteknis peternak. Keempat faktor ini berhubungan satu dengan yang lain dan bila salah satu nilainya rendah akan menyebabkan hasil IB jugaakan rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan reproduksi tidak optimal (Toelihere,1997).

Faktor terpenting dalam pelaksanaan inseminasi adalah ketepatan waktu pemasukan semen pada puncak kesuburan ternak betina. Puncak kesuburan ternak betina adalah pada waktu menjelang ovulasi. Waktu terjadinya ovulasi selalu terkait dengan periode berahi. Pada umumnya ovulasi berlangsung sesudah akhir periode berahi. Ovulasi pada ternak sapi terjadi 15-18 jam sesudah akhir berahi atau 35-45 jam sesudah munculnya gejalaberahi. Sebelum dapat membuahi sel telur yang dikeluarkan sewaktu ovulasi, spermatozoa membutuhkan waktu kapasitasi untuk menyiapkan pengeluaran enzimenzim zona pelucida dan masuk menyatu dengan ovum menjadi embrio (Hafez, 1993). Waktu kapasitasi pada sapi, yaitu 5-6 jam (Bearden dan Fuqual, 1997). Oleh sebab itu, peternak dan petugas lapangan harus mutlak mengetahui dan memahami kapan gejala birahi ternak terjadi sehingga tidak ada keterlambatan IB. Kegagalan IB menjadi penyebab membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan peternak.

Dari data yang diperoleh dari Daftar Realisasi IB dan Kelahiran per Inseminator ima tahun terakhir di Kabupaten Ngawi, menunjukkan bahwa tingkat kegagalan IB pada ternak sapi di Kabupaten Ngawi masih sangat tinggi.  Faktor  penyebab kegagalan inseminasi buatan (IB) di kabupaten Ngawi secara umum antaralain:

1.  Faktor dari individu atau hewan ternak (sapi)

  1. Adanya gangguan hormonal dan adanya penyakit

Hormon reproduksi akan mempengaruhi fungsi dari alat reproduksi, sehingga akan berkembang menjadi masak dan ternak menjadi dewasa kelamin atau mengalami pebertas, sehingga proses reproduksi mulai berlangsung. Biasanya masa dewasa kelamin ini tidak di bersamaan dengan dewasa tubuh, sehingga sapi belum siap untuk dikawinkan, karenan tubuhnya belum mampu untuk menopang kebuntingan. Apabila ada gangguan terhadap salah satu hormon reproduksi dapat menyebabkan salah satu fungsi alat reproduksi hipofungsi atau tidak berfungsi. Walaupun di lakukan perkawinan baik kawin secara alami atau dengan inseminasi buatan akan terjadi kegagalan atau tidak terjadi kebuntingan pada sapi betina.

Penyakit yang disebabkan oleh barbagai jenis protozoa, bakteri atau virus yang menyerang alat reproduksi pada hewan juga dapat menyebabkan infeksi pada alat reproduksi sehingga dapat menyebabkan kegagalan dalam perkawinan.

  1. Adanya kerusakan anatomi

Apabila sapi betina mengalami kerusakan atau kelainan pada organ tubuh terutama pada organ reproduksinya dapat menyebabkan organ ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga dapat menyebabkan kegagalan reproduksi.

  1. Pakan yang jelek

Pada umumnya peternak sapi yang berada didesa-desa dalam memelihara sapi betina memberikan pakan seadanya, Dalam pemeliharaan baik pada masa bunting ataupun tidak pakan yang diberikan tetap sama saja yaitu jerami padi kering. Kebanyakan dari mereka hanya memberikan pakan berupa jerami kering yang nilainya gizinya hanya cukup memenihi kebutuhan hidupnya saja, tetapi kurang apabila nilai gizi dalam jerami tersebut untuk berproduksi maupun bereproduksi. Mereka jarang memberikan hijaun rumput yang mempunyai nilai gizi yang cukup.  Nilai nutrisi yang kurang dapat menyebabkan kerusakan folikel folikel dan tumbuhnya kista yang menyebabkan terjadinya kegagalan reproduksi.

  1. Umur ternak

Seekor ternak jantan atau betina akan mengalami dewasa kelamin sebelum dewasa tubuh. Walaupun sudah mengalami dewasa kelamin dengan ditandai adanya siklus birahi pada betina belum berarti ternak tersebut siap untuk bunting. Umur seekor ternak mempengaruhi kematangan sel telur. Sehingga apabila sel telur dibuahi kemungkinan untuk bunting sangat kecil.

2. Faktor dari inseminator

  1. Ketrampilan inseminator

Dalam melakukan inseminasi buatan  ketrampilan atau jam terbang seorang inseminator dapat menentukan berhasil atau tidaknya sebuah inseminasi. Dalam artian berhasil terjadinya kebuntingan. Seorang inseminator yang amatiran cenderung kurang dapat memastikan fase birahi atau waktu birahi dari seekor ternak, sehingga semen disuntikan tidak tepat waktu. Sehingga tidak terjadi pembuahan. Lain halnya dengan inseminator yang sedah terampil dan mempunyai jam terbang yang tinggi, dia mengetahui dan menentukan kapan waktu yang tepat semen akan disuntikan sehingga prosentase keberhasilan lebih besar.

  1. Teknik dalam melakukan inseminasi

Dalam melakukan inseminasi ada teknik-teknik tertentu yang harus dicermati oleh inseminator, namun kadang kala teknik tersebut diabaikan oleh inseminator, misalnya menyuntikkan semen pada servik yang terlalu jauh dengan tempat pembuahan sehingga sebelum terjadi pembuahan sperma dalam keadaan lemah, sehingga terjadi kegagalan.

  1. Waktu yang tidak tepat untuk Inseminasi

Waktu yang tepat untuk inseminasi ada hubungannya dengan proses fisiologik yang dialami spermatozoa didalam saluran betina untuk memperoleh kapasitas atau kesanggupan membuahi ovum. Oleh karena itu waktu inseminasi pada sapi betina dianjurkan tidak boleh kurang dari 4 (empat) jam sebelum ovulasi atau melebihi 6 (enam) jam sesudah akhir fase estrus. Oleh karena itu pelaksanan praktek sulit untuk menentukan permulaan datangnya birahi secara pasti, petani hanya dapat dianjurkan menggunakan patokan sebagai berikut:

  • Apabila terlihat birahi pada pagi hari, maka harus diinseminasi pada sore hari itu juga dan sudah terlambat jika diinseminasi pada keesokan harinya.
  • Apabila terlihat birahi pada sore hari, waktu yang tepat untuk inseminasi adalah pagi sampai jam 12 siang esok hari, dan sudah terlambat jika lebih jam 12 siang.

3. Faktor dari semen

a.      Semen yang kadaluarsa

Semen yang akan digunakan dalam IB merupakan hasil awetan, yang mempunyai jangka waktu umur tertentu, sehingga sebelum menyuntikkan semen sebaiknya dilihat masa kadaluarsa, karena semen yang sudah kadaluarsa juga tidak dapat digunakan, atau tidak akan berhasil membuahi.

  1. Penyimpanan semen

Penyimpanan semen dilakukan pada suhu tertentu, apabila disimpan pada suhu yang tidak tepat, dapat mengakibatkan sperma mati, sehingga apabila disuntikkan tidak dapat membuahi ovum.

Di kabupaten Ngawi jumlah sapi yang mengalami reproduksi tidak bisa didata secara tepat. Hal ini dikarenakan sapi sapi yang mengalami kegagalan reproduksi atau tidak bisa bunting bahkan yang sedang bunting dijual oleh peternak dan digantikan dengan sapi indukan yang baru

Dari data presentase kegagalan IB lima tahun terakhir dapat dilihat bahwa pada tahun 2007 sampai 2009 program IB yang dilakukan oleh Inseminator di Kabupaten Ngawi mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut kemudian mulai diperbaiki oleh inas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi dengan cara-cara antara lain melakukan program-proram penyuluhan kepada peternak mengenai bagaimana mengantisipasi kegagalan IB yang berimbas pada reproduksi dengan memperhatikan beberapa faktor diantaranya :

  1. Seleksi genetik yaitu memilih bibit sapi yang tepat sebagai indukan sehingga mengurangi resiko adanya gangguan hormonal ataupun cacat genetik.
  2. Manajemen pakan yang baik sehingga mendukung bagi sapi untuk hidup pokok, tumbuh dan bereproduksi sehingga kesuburan saluran reproduksi dapat terjamin.
  3. Manajemen kesehatan yang baik meliputi kesehatan sapi (program pengobatan dan vaksinasi) , kebersihan kandang dan lingkungan (sanitasi dan desinfeksi) sehingga dapat meminimalisasi agen patogen (bakteri, virus, jamur, protozoa) yang dapat mengganggu kesehatan sapi.
  4. Penanganan masalah reproduksi dengan prosedur yang baik dan benar sehingga mengurangi kejadian trauma fisik yang akan menjadi faktor predisposisi gangguan reproduksi

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi memberikan program pinjaman ringan bagi warga maupun peternak yang ingin memelihara sapi sehingga dengan program ini diharapkan semakin banyak populasi yang ada di Kabupaten Ngawi samakin banyak sapi yang dapat di IB.

Apabila semua faktor di atas diperhatikan, maka dapat diharapkan bahwa hasil IB akan lebih tinggi atau hasilnya lebih baik dibandingkan dengan perkawinan alam (Tambing, 2000). Hal ini berarti dengan tingginya hasil IB diharapkan efisiensi produktivitas akan tinggi pula, yang ditandai dengan meningkatnya populasi ternak dan disertai dengan terjadinya perbaikan kualitas genetik ternak, karena semen yang dipakai berasal dari pejantan unggul yang terseleksi. Dengan demikian peranan bioteknologi IB terhadap pembinaan produksi peternakan akan tercapai

IV.             KESIMPULAN DAN SARAN 

A.      KESIMPULAN

Dari data yang didapat dari pendataan realisasi IB per Inseminator lima tahun terkhir ini, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Kegagalan reproduksi pada hewan ternak yang dilakukan dengan inseminasi buatan (IB) di kabupaten Ngawi secara umujm disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : faktor dari hewan ternak itu sendiri, faktor dari inseminator, dan faktor dari semen.
  2. Faktor dari hewan ternak sendri antara lain: gangguan hormonal dan adanya penyakit, kerusakan anatomi, pakan yang jelek, dan umur ternak.
  3. Faktor dari insemator antara lain: keterampilan inseminator, teknik dalam melakukan inseminasi, dan waktu yang tidak tepat dalam inseminasi.
  4. Faktor yang terkhir yaitu faktor dari semen antara lain: semen yang kadaluarsa dan cara penyimpanan semen.

B.       SARAN

Sebaiknya dinas peternakan  selaku lembaga pemerintah memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada peternak sapi breeding  supaya hewan ternak dipelihara dengan baik sehingga  mampu bereproduksi dan memberikan keuntungan pada peternak sapi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Beaden, H.J. and J.W. Fuqual. 1997. Applied Animal Reproduction. Reston Publishing Co., Inc. Prentice Hall Co. Reston Virginia.

Hadisutanto, B. 2008. Studi Tentang Beberapa Performan Reproduksi Pada Berbagai Paritas Induk Dalam Formulasi Masa Kosong Sapi Perah Friesian Holstein (Kasus pada Peternakan Rakyat di Kecamatan Lembang, Bandung) (Abstr).

Hafez, E.S.E. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6 Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. pp. 424-439.

Hardjopranjoto,Suhartodjo.1995.Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga Universiti press. Surabaya

Partodiharjo,Soebadi.1980.Ilmu Reproduksi Hewan.Mutiara.Jakarta

Siregar ,S.M.S. 1992. Sapi Perah, Jenis, Teknis Pemeliharaan dan Analisa Usaha. Cetakan ke-2. Penebar Swadaya, Jakarta

Soetarno, T. 2003. Manajemen Budidaya Sapi Perah. Laboratorium Ternak Perah Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.

Toelihere, M.R. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Edisi ke-2. Angkasa, Bandung. 292 hal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: