Laporan Kesehatan Ternak Pullorum(berak kapur) dan antiparasit ternak

BAB I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kebutuhan protein hewani masyarakat indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat pesat sesuai bertambahnya jumlah penduduk dan tingkat kesadaran gizi yang didukung oleh ilmu dan teknologi. Oleh karena itu perlu peningkatan penyedian sumber gizi, antara lain protein hewani asal daging yang tidak didapatkan dari tumbuh-tumbuhan atau tanaman. Pembangunan sub-sektor peternakan khususna ternak pedaging merupakan alternatif upaya peningkatan penyedian sumber protein hewani. Disamping itu juga perkembangan usaha ternak pedaging, khususnya ayam potong cukup pesat. Komoditas ini merupakan pendorong utama penyediaan protein hewani nasional, sehingga prospek yang sudah bagus ini harus dimanfaatkan untuk memberdayakan peternak di perdesaan melalui pemanfaatan sumberdaya secara lebih optimal.

Keberhasilan suatu usaha peternakan ditentukan oleh tiga faktor yaitu bibit, pakan, dan tatalaksana pemeliharaan. Proporsi masing-masing yaitu 20% untuk bibit, pakan sebanyak 30% dan manajemen sebesar 50%. Kesemuanya bersinergi dalam suatu produksi ternak unggas (Achmad, 2010). Tatalaksana pengendalian penyakit adalah faktor penting yang terkait langsung dengan pelaku usaha peternakan, pada kenyataan dilapang faktor tersebut cenderung mendapatkan perhatian yang kurang. Namun demikian dapat dilihat kenyataan dilapangan bahwa tatalaksana pengendalian penyakit yang benar dalam peternakan ayam memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan usaha peternakan ayam. Ayam yang terkena penyakit sangat menurun produktifitasnya bahkan penyakit yang menular dapat mengakibatkan kematian ayam yang tinggi, dan akhirnya akan merugikan suatu usaha peternakan ayam. Bahkan menurut Murtidjo (1992) kerugian yang ditimbulkan oleh gangguan penyakit bukan hanya kematian, tetapi juga pertumbuhan ayam lambat, produksi telur turun bahkan tidak berproduksi sama sekali.

Menurut sifatnya penyakit dapat dikelompokkan menjadi penyakit menular dan penyakit tidak menular, untuk penyakit menular lebih baik dilakukan pencegahan daripada pengobatan, maka untuk itu dibutuhkan serangkaian kegiatan pencegahan dalam usaha pengendalian penyakit yaitu pencegahan dan penanganan penyakit. Sebelum melakukan pencegahan maupun penanganan terhadap penyakit, hendaknya kita terlebih dahulu mengetahui dengan jelas jenis- jenis penyakit dan gejala yang timbul pada ternak unggas sehingga kita mampu untuk melakukan pengendalian dan penanganan penyakit dengan tepat.Salah satu cara yang tepat untuk mengetahui dengan jelas jenis-jenis penyakit yang menyerang unggas yakni dengan cara melakukan pembedahan dan pengamatan terhadap organ-organ unggas. Suatu usaha peternakan khususnya ayam, hendaknya mengoptimalkan tata laksana pengendalian penyakit didalam tatalaksana pemeliharaanya, sehingga dihasilkan produk-produk peternakan yang lebih baik.

Manajemen adalah suatu usaha pengelolaan untuk peternakan unggas agar mendapatkan keuntungan maksimal dengan tidak mengesampingkan faktor produksi lain. Salah satu faktor yang penting selain pakan dan bibit adalah kesehatan ternak, kandang, dan sumberdaya manusia. Kesehatan pada ternak unggas menjadi harga mati. Sebab dengan tingkat produktivitas tinggi unggas mudah stress. Sehingga daya tahan tubuh gampang turun dan akhirnya penyakit mudah masuk ke dalam tubuhnya.

Biosekuriti, merupakan langkah awal pencegahan agar ayam tidak mudah terjangkiti penyakit salah satunya adalah dengan pengadaan vaksinasi. Vaksinasi harus dilakukan tepat waktu. Vaksinasi dapat meningkatkan kekebalan tubuh ayam. Karena tubuh akan membentuk antigen terhadap jenis bakteri atau virus yang dimasukkan ke dalam tubuhnya. Dan ketika ternak tubuhnya termasuki oleh bakteri atau virus yang sama, maka ternak tersebut telah kebal terhadap bakteri atau virus yang bersangkutan.

Dalam peternakan vaksinasi sangat penting dilakukan agar penularan dan penyebaran penyakit dapat ditanggulangi sehingga ayam tidak banyak yang mati.

  1. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum Kesehatan Ternak ini adalah agar mahasiswa dapat membedakan antara ayam yang sakit dengan ayam yang sehat melalui pengamatan terhadap bentuk fisik dan organ visceral ayam serta dapat mengetahui jenis vaksin dan cara penggunaanya dan  dapat melakukan proses vaksinasi.

  1. Waktu dan Tempat

Praktikum acara Kesehatan Ternak dan Vaksinasi dilaksanakan pada hari Sabtu  tanggal 26 Maret 2011. Bertempat di Kandang produksi ternak Fakultas Pertanian UNS, Jatikuwung Karanganyar.

BAB II. Tinjauan Pustaka 

A. Kesehatan Ternak

Penyakit ayam merupakan kendala utama pada peternakan intensif di lingkungan tropis seperti di Indonesia. karena dapat menurunkan produksi, seperti pada kelompok penyakit pernafasan. (Murtidjo 1992)

Dalam pemeliharaan ternak, salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah penyakit. Bahkan tidak jarang peternak mengalami kerugian dan tidak lagi beternak akibat adanya kematian pada ternaknya. Upaya pengendalian penyakit pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan melalui cara pemeliharaan yang baik, sehingga peternak memperoleh pendapatan secara maksimal. Upaya pengendalian penyakit dapat dilakukan melalui usaha pencegahan penyakit dan atau pengobatan pada ternak yang sakit. Namun demikian usaha pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan pengobatan            ( Jahja dkk, 1993).

Pengendalian penyakit ayam, pengertian dan ruang lingkupnya. Dalam usaha peternakan ayam dikenal ada tiga perangkat utama yang menentukan kesuksesan usaha yaitu penggunaan bibit unggul, pemberian ransum yang bermutu, pelakasanaan tata laksana secara efisien, dan pengendalian penyakit secara benar dan tepat (Sudarmono, 2003).

Disisi lain penyakit unggas yang sifatnya menular jika sudah terlanjur menjangkiti akan dapat menurunkan produksi, bahkan akan menjadikan usaha peternakan tersebut bangkrut (Sudaryani, 2003).

Sakit adalah kondisi yang menunjukkan adanya ganguan fisiologis yang dinyatakan dengan gangguan sistem dalam tubuh dan dapat terlihat dengan lemahnya tubuh, gejala gejala klinis serta tidak dapat berproduksi secara optimal (Trisunuwati. dkk, 2006).

B. Vaksinasi

Antibiotik adalah suatu obat, bukan zat makanan. Jadi pengaruhnya terhadap ransum ternak adalah sekunder. Antibiotik digunakan secara luas dalam ransum unggas dan babi untuk mempertinggi laju dan efisiensi pertumbuhan hewan ternak tersebut. Antibiotik juga digunakan dalam pemberian ransum pada anak sapi, sebelum hewan-hewan tersebut mempunyai rumen yang berkembang sempurna dan dalam beberapa hal telah diberikan pula pada anak sapi yang sedang digemukkan. Akan tetapi penggunaan utama antibiotik adalah pada ransum hewan berlambung satu seperti babi dan unggas dalam konsentrasi yang relatif rendah             (Akoso, 2002).

Cara pemberian vaksin yaitu melalui tetes, suntik/injeksi, melalui air minum, wing-web dan semprot. Melalui tetes yaitu dengan tetes mata, hidung, atau mulut. Melalui injeksi yaitu subcutan/dibawah kulit dan intra muscular/dalam daging atau otot. Melalui air minum adalah dengan mencampur vaksin dengan air minum, agar efektif ternak dipuasakan dahulu selama 2 jam sehingga air mengandung vaksin dapat segera dikonsumsi. Injeksi subcutan dilakukan dengan memberikan vaksin di daerah leher dengan jarum tidak masuk ke daging melainkan berada diantara daging dan kulit. Dan cara terakhir adalah semprot, cara ini harus dilakukan ketika tidak ada angin sedang berhembus ke kandang, sehingga virus dalam vaksin akan terbang keluar, tidak dihirup oleh ayam. Menurut penelitian terakhir cara inilah yang terbaik (Rasyaf, 2003).

Vaksin adalah suatu produk hayati yang berasal dari jasad renik (bakteri, virus, toksin dan lain-lain) yang bersifat merangsang pembentukan antibodi. Sedangkan vaksinasi sendiri berarti suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada ayam, agar kebal terhadap serangan suatu penyakit (Murtidjo. 2004).

Antibiotik berfungsi untuk membunuh mikroba dalam usus, hal yang paling penting adalah membunuh bakteri patogen. Contoh Antibiotik adalah Pennicillin, Streptomicyn dan Bacitracin (Susanto. 2004).

Anak ayam umur 2-16 minggu (mendekati dewasa kelamin) rawan terhadap penyakit Marek’s. Walaupun dapat juga menyerang unggas lain seperti puyuh, kalkun dll, namun vaksinasi pasda unggas tersebut tidak lumrah. Ayam dan Kalkun dapat diimunisasi terhadap NCD (Newcastle Disease). Vaksin aktif dengan virus lemah dianjurkan melalui berbagai cara., seperti melalui air minum, tetes mata, tetes hidung, semprot. Sedangkan vaksin inaktif dianjurkan untuk pullet melalui vaksinasi injeksi intramuscular atau subcutan (Jacob, ett. all. 2006).

Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan “mengingat”-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap:

  1. Menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel
  2. Mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak.

Vaksin yang dilemahkan digunakan untuk melawan tuberkulosis, rabies, dan cacar; agen yang telah mati digunakan untuk mengatasi kolera dan tifus; toksoid digunakan untuk melawan difteri dan tetanus. Meskipun vaksin sejauh ini tidak virulen sebagaimana agen “sebenarnya”, bisa menimbulkan efek samping yang merugikan, dan harus diperkuat dengan vaksinasi ulang beberapa tiap tahun. (www.wikipedia.co.id,2011)

BAB III. Materi dan Metode

A. Kesehatan Ternak

  1. Materi
    1. Ayam hidup
    2. Pinset
    3. Pisau
    4. gunting
    5. Tissue
    6. Jarum pentul
    7. Kapas
    8. Chlorofom
    9. Metode
      1. Kapas diberi chlorofom kemudian ditempelkan pada hidung ayam sampai ayam pingsan.
      2. Setelah pingsan, ayam kemudian dibelah bagian perut, sayap difiksasi terlebih dahulu.
      3. Ayam yang telah dibelah kemudian diamati organ-organnya.
      4. Tiap organ diamati bentuk dan warnanya normal atau tidak.
      5. Pencatatan hasil pengamatan pada lembar kerja lapangan.

B. Vaksinasi

  1. Materi
    1. Automatic Injection
    2. Alat penggores
    3. Spuit
    4. Kapas
    5. Alcohol
    6. Vaksin Cacar
    7. Vaksin ND
    8. Vaksin AI
    9. Vitamin, obat dan anti parasit
    10. Metode
      1. Mempersiapkan alat untuk vaksinasi (spuit, alat penggores, Automatic Injection)
      2. Mempersiapkan vaksin dengan benar
      3. Memasukkan vaksin ke masing-masing alat vaksinasi.
      4. Mempersiapkan ayam yang akan divaksin
      5.  Melakukan vaksinasi (tetes mata, menggoreskan dan menyuntikkan vaksin ke daerah intramuscular dari ayam)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kesehatan Ternak

1. Hasil Pengamatan

Tabel 1. Pengamatan Eksterior
Nama Organ Kondisi/keadaan

Penyakit

Mata Bening dan sering menutup

Hidung Ada lendir berwarna putih

Bulu tubuh Berdiri di bagian leher dan kotor dibagian ekor

Kaki Jari kaki ada koreng dan patah

Gerakan Lemas dan suka merunduk

Sumber: Laporan Sementara
Tabel 2. Pengamatan Organ Dalam (Visceral)
Nama organ Warna Bentuk dan Ukuran

Penyakit

Lidah Merah pucat Meruncing Kecil

Tenggorokan Merah pucat Tabung memanjang, kecil

Kerongkongan Putih Tabung memanjang, kecil

Tembolok Putih Bulat, kecil, tidak berisi

Hati Merah semu hitam Lembaran, besar

Jantung Merah pucat Mengerucut, kecil

Empedu Hijau tua Kapsul panjang, kecil

Lien Merah semu hitam Bulat, keci

Proventiculus Merah pucat Tabung,kecil

Gizard Merah pucat Agak oval, kecil

Duodenum Merah pucat Tabung memanjang, kecil

Usus Halus Merah pucat Tabung memanjang, kecil

Usus Besar Merah pucat Tabung memanjang, agak besar

Ceca mMerah pucat Tabung memanjang dan buntu,kecil

Berak Kapur

Pankreas Putih Pipih memanjang, kecil

Ginjal Kemerahan Lembaran, besar

SSumber: Laporan Sementara

 

2. Pembahasan

Gambar 1. Pengamatan eksterior pada ayam.

Pada pengamatan eksterior, mata ayam terlihat normal, bening namun suka menutup. Hidungnya ada sedikit lendir berwarna putih bening. Bulu tubuh normal tapi pada bagian leher ada yang berdiri dan pada daerah sekitar dubur, bulunya kotor dan saling menempel. Kakinya terdapat koreng pada jari kaki dan mengalami patah tulang tapi masih bisa berjalan. Gerakannya lemah dan suka menunduk diam. Dari pengamatan tersebut, ayam terlihat tidak sehat.

Gambar 2. Pengamatan eksterior pada lidah ayam.

Lidah ayam dalam keadaan normal. Bentuk runcing dan keras seperti ujung panah dengan arah ke depan. Bentuk seperti kail pada bagian belakang lidah berfungsi untuk mendorong pakan menuju oeshophagus sewaktu lidah digerakkan dari depan ke belakang. Kelenjar saliva mengeluarkan sejenis mukosa yang berfungsi sebagai pelumas makanan agar masuk ke dalam oesophagus yang akan diteruskan ke tembolok.

Gambar 3. Proses pembiusan ayam

 

Gambar 4. Proses pembedahan ayam

Pada pengamatan organ visceral ayam, langkah pertama yang dilakukan adalah pembiusan ayam. Pembiusan dilakukan agar saat dibedah, jantung ayam masih berdetak dan organ ayam dalam keadaan masih hidup. Adapun bagian-bagian yang diamati antara lain:

 

Gambar 5. Organ dalam ayam

Tenggorokan merupakan saluran yang merupakan jalan pernafasan. Fungsi tenggorok yaitu menyalurkan oksigen dari hidung menuju paru-paru. Kerongkongan merupakan saluran memanjang berbentuk seperti tabung yang merupakan jalan makanan dari mulut sampai permulaan tembolok dan perbatasan pharynx pada bagian atas dan proventrikulus bagian bawah. Fungsi kerongkongan adalah menyalurkan makanan ke tembolok.

Crop atau tembolok adalah pelebaran dari oesophagus yang berbentuk seperti kantong. Proses pencernaan di crop sangat kecil terjadi kadang tidak sama sekali. Bagian dindingnya mengandung banyak kelenjar mukosa yang menghasilkan getah yang berfungsi untuk melembekkan makanan. Fungsi utama crop adalah sebagai organ penyimpan pakan. Pakan yang berupa serat kasar dan bijian tinggal di dalam crop selama beberapa jam untuk proses pelunakan dan pengasaman. Dalam pembedahan ayam ini tidak ditemukan makanan apapun di dalam tembolok, hal ini disebabkan menurunnya nafsu makan ayam karena terkena penyakit pullorum.

Gambar 6. Hati ayam

Hati terletak di antara gizzard dan empedu, berwarna kemerahan dan terdiri dari dua lobus yaitu lobus dexter dan lobus sinister. Hati berfungsi menyaring darah dan menyimpan glikogen yang dibagikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Salah satu peranan terpenting hati dalam pencernaan adalah menghasilkan cairan empedu yang berfungsi untuk mengemulsi lemak. Dalam hal ini, hati ayam yang diamati terlihat agak lebih besar untuk ukuran ayam broiler ini, ini salah satu tanda penyakit berak kapur.

 

Gambar 7. Jantung ayam

Jantung adalah organ otot yang memegang paranan penting di dalam peredaran darah dan secara anatomis organ ini terbagi menjadi empat ruang, yaitu dua bilik yaitu bilik kanan dan bilik kiri, dan dua serambi yakni serambi kanan dan serambi kiri yang memungkinkan terjadinya peredaran darah secara efisien ke dalam paru-paru untuk melengkapi pergantian O2 dan CO2 untuk menyokong proses metabolisme. Darah ayam merupakan 8% dari berat badan anak ayam umur 2-8 minggu atau sekitar 6% dari berat ayam dewasa.

                    Gambar 8. Empedu ayam.                      Gambar 9. Lien atau limpa

Empedu merupakan cairan berwarna hijau tua yang dikeluarkan oleh hati. Cairan empedu ini berperan dalam mengemulsikan lemak. Lien berbentuk agak bulat, berwarna merah kecoklatan dan kenyal. Organ ini berhubungan dengan sistem peredaran darah dan terletak di dalam rongga perut berdekatan dengan empedal. Di dalam limpa, sel darah merah dan sel darah putih dibentuk dan limpa bertindak sebagai penyimpan sel darah merah. Organ ini penting bagi tubuh karena perannya dalam membentuk sel yang bertanggung jawab terhadap produksi antibodi atau terhadap reaksi immunologi yang lain.

Gabar 10. Proventrikulus dan gizzard

Proventrikulus atau perut kelenjar adalah penebalan dan perbesaran terakhir dari oesophagus. Asam hidroklorit, getah lambung dan enzim pepsin yang dihasilkan oleh dinding proventrikulus berfungsi untuk membantu proses mencerna protein. Sewaktu makanan melewatinya, sel kelenjar secara mekanis akan berkerut dan menyebabkan keluarnya cairan kelenjar perut. Pencernaan secara enzimatis pada proventrikulus sedikit terjadi karena makanan berjalan cepat di dalam proventrikulus. dalam pengamatan ini, proventrikulus berwarna merah pucat dan masih tergolong normal.

 Gizzard atau empedal terdiri atas serabut otot yang padat dan kuat. Bentuknya oval dengan dua lubang saluran di ujung-ujungnya. Di bagian depan berhubungan dengan perut kelenjar dan bagian yang lain dengan usus halus. Fungsi utama empedal adalah menggiling dan meremas pakan yang keras. Perototan empedal melakukan gerakan meremas kurang lebih empat kali setiap menit. Didalam empedal ini dapat dihasilkan asam hidroklorit. Proses mencerna makanan secara normal dapat dibantu oleh adanya kerikil yang biasa di ambil dan ditelan melalui mulut. Ukuran empedal dipengaruhi oleh aktivitasnya. Apabila unggas secara rutin diberi pakan yang sudah siap tergiling maka empedal akan menjadi lingsut dan bentuk empedal ini sesuai dengan jenis ayam broiler yang selalu diberi pakan siap tergiling yakni berbentuk kecil dan lingsut selain itu pada saat dibedah isinya sedikit, mungkin ayam sedikit makan.

Gambar 11. Duodenum

Duodenum merupakan bagian dari usus halus di bagian depan dan berakhir direktum atau usus besar di bagian paling belakang.

 

Gambar 12. Usus halus dan Ceca

Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Usus halus berfungsi sebagai tempat mencerna protein dan karbohidrat.

Pada persambungan usus bagian bawah dan rectum terdapat dua bentuk cabang usus yang buntu sehingga  disebut usus buntu atau ceca. Di dalam ceca terdapat pencernaan karbohidrat, protein, absorbsi air serta sintesis vitamin A. Ceca membantu mencerna pakan yang memiliki susunan serat kasar yang tinggi melalui aksi jasad renik atau mikroorganisme.

   Gambar 13. Pankreas   Gambar 14. Ginjal ayam

. Pankreas adalah organ yang terletak di tengah duodenum yang berfungsi mensekresikan enzim pemecah polimer hati, lemak dan protein yaitu amylase, lipase, dan tripsin Ginjal ayam berbentuk seperi lembaran berwarna kemerahan dan menempel pada tulang punggung ayam. Ginjal berfungsi sebagai organ ekskresi.

Gambar 15. Usus besar yang terdapat kapur

Gambar 16. Kotoran ayam yang encer dan terdapat kapur putih

Usus besar biasanya berukuran panjang  7– 10  cm dan terisi calon tinja. Pada pembedahan dan pengamatan ayam ini, kami menemukan adanya calon tinja yang berwarna putih. Tinja berwarna putih ini adalah kapur. Gejala seperti ini dinamakan penyakit berak kapur atau pullorum.

Penyakit pullorum dikenal dengan nama bacillary white diarrhea, white diarrhea adalah penyakit yang sudah lama terkenal di seluruh dunia peternakan, penyakit ini biasanya sering dan terjadi banyak kematian di mesin penetasan ( inkubator ) yang dapat mengakibatkan kerugian yang fatal terhadap sebuah perusahaan yang ayamnya terjangkit pullorum ini. Penyakit pullorum disebabkan oleh organisme non motile salmonella pullorum. Peternakan unggas kalkun, burung puyuh, bebek burung merpati dapat menderita dari penyakit pullorum juga.  Ayam ras pedaging (atau yang biasa disebut dengan ayam broiler) lebih rentan terhadap penyakit pullorum ini. Penyakit pulorum menyerang organ pencernaan unggas.

Cara penularan dapat melalui telur tetas dari induk yang terkena berak kapur mesin tetas yang kurang bersih dapat menyebabkan telur-telur di dalamnya kemasukan kuman penyakit. tempat pakan, air minum dan kandang yang kurang bersih.

Gejala penyakit yang sering dijumpai pada ayam antara lain :

  • Ayam menjadi pucat, lemah, lesu dan mudah mengantuk.
  • Ayam kelihatan seperti kedinginan, bulunya menjadi kusam dan sering berdiri.
  • Sayap terkulai kendur dan menggantung.
  • Anak ayam yang terkena gejala penyakit berak kapur bergerombol dibawah lampu pemanas. Mata sering terpejam, sayap terkulai lemas dan posisi tubuh sering menunduk.
  • Nafsu makan berkurang, kotoran yang keluar agak cair dan berwarna keputih-putihan seperti kapur. Oleh sebab itulah pullorum juga sering disebut dengan berak kapur.
  • Apabila tidak segera diobati pada hari ke 4 atau hari ke 11 ayam tersebut akan mati.

penyakit berak kapur dapat menyerang ayam dari semua umur, namun lebih sering terjadi pada ayam umur 1 hari hingga 3 minggu. Pada masa-masa ini kematian yang terjadi cukup tinggi. bagian tubuh yang diserang adalah saluran pencernaan.

Akibat-akibat yang ditimbulkan penyakit ini antara lain jantung dan empedu benjol-benjol serta banyak dijumpai adanya bercak-bercak putih. Kadang-kadang hati dan limpanya membengkak. kemampuan bertarung rendah. ayam yang sudah pernah mengidap penyakit ini, di dalam tubuhnya tetap terdapat bakteri salmonella pullorum sehingga kuarang baik jika digunakan sebagai bibit.

Penanggulangan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu secara fisis,  kandang berikut peralatannya harus selalu bersih bahkan kalau perlu disucihamakan. Telur tetas hendaknya dipilih dari induk yang benar-benar sehat. Mesin tetas sebelum digunakan harus disucihamakan dengan formaldehyde sebanyak 40%. Ayam yang terkena penyakit sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang sudah parah dimusnahkan. Secara mekanis, tidak mengambil induk jantan dan betina yang pernah terserang berak kapur. Secara kimiawi, Dapat diberikan antibiotik untuk pengobatan. Pengobatan berak kapur dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau mycomas  di dada ayam. Pengobatan juga dapat dilakukan dengan menggunakan preparat sulfonamide. Pemberian furazolidone pada anak ayam akan mengurangi angka kematian. Furazolidone diberikan melalui pakan dengan dosis 100 gram/ton pakan yang diberikan selama 2 minggu. Fumigasi pada incubator dan hatcer dengan uap formaldehyde dapat menekan penyebaran Salmonella pullorum dan memusnahkan residu infeksi di antara periode penetasan telur.

B. Vaksinasi

1. Hasil Pengamatan

Tabel 3. Macam-Macam Vaksin dan Vitamin
Nama Vaksin/Vitamin Dosis Cara Pemberian
ND B1 (Medivac ND Hitcnner B1) 1 tetes Tetes mata
Cacar ayam (Medivac Pox) 1 goresan Digores pada bawah sayap
ND Clone (Nobilis New Castle) 0,5 ml Disuntik pada bawah kulit
AI 0,5 ml Disuntik pada bawah kulit
Anti parasit (Doramectin Dectomac) 1 ml/50 kg bobot Disuntik pada bawah kulit
Vitamin (Biosolamine) 0,5-1 ml Disuntik pada bawah kulit
Sumber:Laporan Sementara

2. Pembahasan

Berbicara keberhasilan mengenai peternakan (tanpa tergantung skala bisnisnya) oleh seorang peternak ditentukan dari pengetahuan dan pemahaman dengan pengenalan sumber hambatan dan ancaman dari penyakit yang mungkin dapat menjadikan ledakan penyakit menular dan berakibat sangat merugikan. Oleh sebab itu, pengamanan dan menjauhkan ternak ayam dari sumber wabah dan hambatan potensial tersebut menjadi prioritas dan perhatian khusus.

Dimulai dengan pemilihan indukan yang unggul, pengelolaan yang baik, sanitasi, peningkatan daya tahan ayam dengan vaksinasi dan usaha pencegahan suatu penyakit adalah suatu tindakan untuk melindungi individu terhadap serangan penyakit atau menurunkan keganasannya. Vaksinasi merupakan salah satu diantara berbagai cara yang efektif untuk melindungi individu terhadap serangan berbagai macam penyakit tertentu. Tindakan vaksinasi adalah salah satu usaha agar hewan yang divaksinasi memiliki daya kebal sehingga terlindung dari serangan penyakitmenjauhkan ternak ayam dari sumber penyakit adalah kunci sukses dalam beternak ayam.

Banyak di kalangan peternak yang berpikir bahwa vaksin membutuhkan biaya yang cukup mahal, sehingga sering dilakukan seadanya atau bahkan ditiadakan sama sekali. Padahal jika vaksinasi dilakukan secara benar maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan tidak sebanding dengan biaya yang kita keluarkan karena program vaksinasi yang dilakukan secara benar akan menjaga kondisi kesehatan ayam dengan cara pembentukan antibody.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam vaksinasi antara lain ternak harus sehat, jenis dan tipe vaksin, umur ternak dan cara atau metode dalam melakukan vaksinasi, perlakuan terhadap vaksin dan penanganan ternak sebelum dan setelah vaksinasi. Pada praktikum yang dilakuakn vaksin yang digunakan antara lain ND (tetes dan injection), cacar ayam dan AI. Untuk hewan besar diberi obat anti parasit dan dan vitamin B-kompleks biosolamin.


Gambar 17. Vaksin ND (Medivac ND Hithhner B1) dan LD50

Gambar 18 . Vaksin ND Klon (Nobilis NEWCAVAC)

Gambar 19  . Pemberian vaksin ND  melalui tetes mata.

   

Gambar  20 .Pemberian vaksin ND melalui injeksi subcutan dan injeksi intramuscular

Pemberian vaksin ND bertujuan mencegah timbulnya penyakit Newcastle Disease pada unggas. Vaksin ini juga dilakukan dengan 3 cara yaitu dengan pemberian tetes mata, metode injeksi subcutan di leher dan injeksi intramuskuler pada paha dan dada. Perbedaan metode vaksin ini dikarenakan  perbedaan umur ayam yang akan divaksin. Untuk pemberian vaksin secara tetes dilakukan pada anak ayam di tempat penetasan atau pada masa brooding (masa penghangatan) di kandang.

Gambar  21. automatic Injention

Gambar 22. Kapas dan Alkohol

Vaksin dilarutkan sesuai dengan konsentrasi dan dosis yang disyaratkan vaksin harus benar-benar mengenai mukosa mata atau hidung. Pelarut (Larutan dasar/LD50) dituangkan ke dalam botol vaksin sehingga terisi 2/3 dari botol tersebut, botol lalu ditutup dan dikocok sampai homogen (dengan cara goyangkan dengan arah seperti angka delapan).

Meneteskan pada mucosa mata atau hidung dengan dosis 1 tetes/ekor. Vaksin ND dapat juga diberikan dengan penyuntikan pada intramuscular dada dan sub kutan yang sebelumnya bagian yang akan disuntik diolesi kapas yang diberi alcohol guna sterilisasi bagian yang disuntik.. Penggunaan automatic injection ini memudahkan kita unuk mendapatkan dosis vaksin yang tepat untuk  diberikan pada unggas. Dosis untuk vaksin ND Clone adalah 0,5 ml per ekor dan tidak tergantung dari berat dan umur ayam. Vaksin ini diberikan dalan jangka 1 tahun sekali.

Gambar 23.Vaksin cacar ayam (Medivac Pox) dan alat penggores.

Fowl Pox memang jarang terjadi, namun untuk mengurangi resiko kematian ayam, vaksinasi ini sebaiknya tetap dilakukan. Pelaksanaan vaksinasi biasanya dilakukan pada sore hari pukul 17.00 WIB hingga selesai. Jika terdapat vaksin yang tersisa, vaksin tersebut harus dibuang  atau dimusnahkan. Demikian halnya dengan vaksin yang lain, vaksin ini juga tidak diperbolehkan terpapar sinar matahari langsung atau suhu yang tinggi. Vaksinasi cacar ini sangat berbeda dengan vaksin-vaksin lainnya. Pemberian vaksin ini dilakukan dengan metode tusuk sayap. Vaksin ini dikemas dalam satu vial berbentuk cairan emulsi.

Gambar 24. Proses vaksinasi cacar ayam

Petunjuk pemakaian dan dosisnya adalah sebagai berikut:

  1. Mengocok vaksin sampai emulsinya menjadi rata (homogen) sebelum dipakai.
  2. Membentangkan sayap ayam sedemikian rupa sehingga “wingweb”nya terlihat jelas.
  3. Mencelupkan jarum yang tersedia ke dalam vaksin.
  4. Menusukkan wingweb dengan jarum tersebut hingga tembus.
  5. Satu dosis atau 1 goresan  vaksin setara dengan 0,01 ml.
  6. Vaksinasi dilakukan pada ayam umur 4-7 minggu dan dapat diulang pada umur 8-12 minggu.
  7. Lima sampai tujuh hari setelah vakinasi akan terjadi kekebalan ditandai dengan terbentuknya sarang pox. Sarang pox akan mengecil dan menghilang setelah 21 hari.

Gambar  25. Vaksin AI

Vaksinasi AI mulai merebak setahun belakangan ini akibat adanya kasus flu burung yang melanda Thailand, China dan Malaysia. Di beberapa wilayah Indonesia juga terjangkit wabah flu burung. Penyakit  ini juga membuat kerugian yang sangat luar biasa karena seluruh ayam yang terkena harus dimusnahkan. Namun, flu burung ini dapat ditanggulangi dengan melakukan vaksinasi sejak dini yaitu melakukan vaksinasi pada anak-anak ayam atau pada ayam dewasa agar terbentuk kekebalan tubuh terhadap serangan flu burung yang dicurigai disebarkan melalui burung-burung liar yang melakukan migrasi. Vaksin ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan injeksi subcutan dan injeksi intramuskuler pada otot dada. Perbedaan ini didasari oleh umur ayam yang akan dilakukan vaksinasi.

Spesifikasi dan petunjuk pemakaian vaksin ini adalah  sebagai berikut:

  • Vaksin AI: adalah vaksin inaktif yang dibuat dari virus  Avian Influenza (AI) isolat lapangan  (autovaksin) subtipe H5N1.
  • Kegunaan :Vaksin ini digunakan untuk menimbulkan kekebalan terhadap virus AI subtipe H5N1 pada ayam atau unggas lainnya.
  • Cara pemakaian dan dosis :

a)    Sebelum dipakai, mengocok botol vaksin sampai homogen

b)   Menyuntik vaksin di bawah kulit pada pangkal leher atau dalam urat daging dada ayam atau unggas lainnya dengan menggunakan alat suntik steril.

  • Dosis:   Ayam umur 4-21 hari                  0,2 ml
  • Ayam umur di atas 21 hari                       0,5 ml

Seperti pada manusia, hewan yang dalam hal ini ayam kampung yang dipelihara secara intensif memerlukan vaksinasi. Vaksinasi lebih dimaksudkan untuk memberikan kekebalan buatan pada ayam kampung (buras) terhadap penyakit-penyakit ganas yang biasa menyerang ternak ayam. Vaksinasi menjadi antisipasi atau asuransi terhadap investasi kita dalam berternak ayam.

Gambar  26. vitamin(Biosolamin) dan Obat anti parasit ( Doamectin Dectomac)

Gambar  27. Pemberian obat anti parasit.

Gambar 28. Pemberian vitamin Biosalomine

Selain pemberian vaksinasi pada unggas pada praktikum dilakukan juga pemberian obat anti parasit pada sapi dan vitamin pada kambing. Obat anti parasit digunakan agar ternak tidak mudah terkena parasit seperti cacing, caplak, dan lain sebagainya. Pemberian obat anti parasit ini dilakukan dengan injeksi subcutan dengan dosis 1 ml/50 KG obot ternak. Vitamin yang digunakan pada kambing adalah biosolamin yang mengandung B-complex. Vitamin diberikan dengan metode injection pada daerah subcutan atau intramuscular. Fungsi dari B-complex adalah untuk metabolisme karbohidrat, asam lemak & protein, imunitas, menambah nafsu makan dan membantu tumbuh kembang.  Dosis yang diberikan sekitar 1 ml/50 Kg bobot ternak. Biosolamin juga dilakukan dengan cara injecrion. Fungsi dari pemberian biosalamin sebagai penguat otot, biasanya ini diberikan pada sapi atau kambing yang pincang dan habis melahirkan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil praktikum Ilmu Kesehatan Ternak yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pada pengamatan eksterior ayam, hasilnya adalah mata ayam terlihat bening namun ayam sering menutupkan matanya seperti mengantuk, hidung ayam keluar lendir berwarna bening, bulu ayam normal tapi berdiri pada bagian leher dan kotor dibagian dubur, pada kaki terdapat koreng dan ada jari yang patah, dan ayam tidak banyak bergerak dan banyak menunduk. Dan pada pengamatan organ dalam (visceral) ayam, organ yang diamati adalah lidah, tenggorokan, kerongkongan, tembolok, hati, jantung, empedu, lien, proventriculus, gizzard, duodenum, usus halus, usus besar, ceca, pankreas, dan ginjal. Kotoran ayam berwarna agak kehijauan, encer dan terdapat kapur. Dari pengamatan dan hasil pembedahan ayam, dapat disimpulakn bahya ayam terjangkit penyakit pullorum atau berak kapur.

Vaksinasi merupakan salah satu diantara berbagai cara yang efektif untuk melindungi individu terhadap serangan berbagai macam penyakit tertentu. Vaksin yang digunakan adalah vaksin ND, cacar ayam dan AI. Flu burung dapat ditanggulangi dengan melakukan vaksinasi sejak dini yaitu melakukan vaksinasi pada anak-anak ayam atau pada ayam dewasa agar terbentuk kekebalan tubuh. Vaksin ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan injeksi subcutan dan injeksi intramuskuler pada otot dada. Selian vaksinasi juga dilakukan pemberian obat anti parasit dan vitamin pada sapi dan kambing dengan cara injeksi menggunakan spuit. Obat anti parasit digunakan agar ternak tidak mudah terkena parasit seperti cacing, caplak, dan lain sebagainya.Fungsi dari pemberian biosalamin sebagai penguat otot, biasanya ini diberikan pada sapi atau kambing yang pincang dan habis melahirkan.

B. Saran

            Saran yang dapat diberikan dalam Ilmu Kesehatan Ternak adalah

Waktu pelaksanaan praktikum terlalu singkat dan hewan terlalu terbatas sehingga mahasiswa banyak yang tidak melakukan vaksinasi.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, P, 2010. Manajemen Pemeliharaan Ternak Unggas (Broiler). http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-ayam-pedaging-broiler.html

Akoso, B. T. 2002. Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

Indartono, A.S .2005. Manajemen Air Minum Unggas. Poultri Indonesia. Jakarta.

Jahja dan Retno. 1993. Petunjuk Mendiagnosa Penyakit Ayam. Medion. Bandung

J.P. Jacob, G.D. Butchaer, and F.B. Mather. 2006. Vaccination of Small Poultry Flock . University of Florida, Institute of Food and Agricultural Sciences (UF/IFAS) . Florida.

Murtidjo, Bambang Agus, 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit. Kanisius. Yogyakarta.

Sauvani, 2010. Modivikasi Vaksinasi.http://www.glory-farm.com/psv/vak_pny.html

Susanto. 2005. Syarat Desinfektan dan Antibiotik Yang Baik. Poultry Indonesia. Jakarta.

Sudarmono, A. S. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Penebar Swadaya . Jakarta.

Sudaryani,T. dan H. Santosa. 2003. Pembibtan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tabbu,Charles R. 2000,Penyakit Ayam dan Penanggulangannya.Kanisius.Yogyakarta.

Trisunuwati, P., Indarti R., Masdiana., 2006. Penuntun Praktikum Epidemologi. Laboratorium Epidemiologi Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.

Anonym, 2011. Penyakit berak kapur. http://www.central-bangkok-farm.com/2010/08/penyakit-berak-kapur-atau-pullorum.html#ixzz1HiHyPHmx. Diakses tanggal 27 Maret 2011 pukul 20.35 WIB

Anonym, 2011.Kesehatanternak.http://www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1120. Diakses tanggal 27 Maret 2011 pukul 20.50 WiB

13 Komentar (+add yours?)

  1. lovehanna
    Sep 14, 2011 @ 16:48:14

    yang uda ambil silahkan tinggalin coment yah,,n boleh request data.ok

    Balas

  2. denyta anggraini
    Des 01, 2011 @ 05:43:19

    woooo ., . laporan nya yak buuu ., .
    good., good ..
    aku udh buka lho ., manfaat bgt deh ..
    ahihihihi
    denyta cute adore

    Balas

  3. denny purnama
    Feb 13, 2012 @ 05:01:01

    wah keren ni

    Balas

  4. vinda
    Feb 18, 2012 @ 10:20:23

    sngat mmbntu utk litratur tgss..
    boleh request data ttng pakan ayam broiler?..trutama ttng gmna cra ngitung kndungan nutrien pakannya,
    mkschh…

    Balas

    • lovehanna
      Mei 11, 2012 @ 07:31:10

      maksudna data niy gmana yah mbak?manam-macam bhan pakanna ato merk na niy?biasanya ayam broiler kan udah ada completfeedna. ngitung kandungan nutien tiap bahan pakan tuh lewat pengujian laboratorium mb’…

      Balas

  5. danny
    Mar 06, 2012 @ 22:50:35

    hasil laporan yg bagus & menarik mbak, bs bwt bahan penelitian lebih lanjut, tp blm bs menjawab penasaranq tentang berak kapur, antara berak kapur bawaaan dan berak kapur pada ayam broiler yg sering muncul pada mggu 2 dan 3 & diikuti kematian yg tinggi, tolong solusi dan pengobatanny y mbk jika menemukan. mksh b4

    Balas

    • lovehanna
      Mei 11, 2012 @ 07:52:15

      haduh maaf mz..aq bukan dokter hewan,cuma sebatas mahasiswi..takut kalo jwabna salah…berak kapur bawaan kan asalna dari ayam yang ditetaskan dari telur yang uda kena bakteri salmonella pullorum ato dari induk yang kena pullorum..jadi mpe dewasa anak ayam ini punya bakteri pullorum di dirina…kalo yang muncul pada minggu ke-2 ato 3 tu bisa disebabin kebersihan kandang n peralatanna yg kurang terjaga…mengenai alasan knapa nyerangna pada umur tersebut q jg masih kurang tw…maaf bget y mz…

      solusi na mgkin sanitasi kandang ma pemberian vitamin yg rutin
      pengobatanna uda ada di laporanna,,,pi itu, meskipun sembuh pi ayam masih punya bakteri di dirina sehingga pertumbuhan g bagus buat yg broiler,kalo buat pelelur yah produksina turun n ayam ini g bagus buat dijadikan indukan karena telurna ntar juga kena.

      Balas

  6. IYan Siputra BunGsu
    Jun 20, 2012 @ 08:06:20

    laporan yang bagus mbk………tak copy ea coz q d sruh buat lporan ma guru q………thank’z ea mbk…….

    Balas

  7. adi susanto
    Jan 02, 2014 @ 13:34:09

    mbak neg bwt laporan tolong gambarnya sendri2 ya
    makasih
    \

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: